Khabaro.com – Suasana di AWS Summit 2026 Jakarta terasa berbeda. Di tengah antusiasme pelaku industri yang membicarakan masa depan kecerdasan buatan, satu angka langsung mencuri perhatian: 40 persen. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia menggambarkan perubahan besar cara perusahaan Indonesia memanfaatkan Artificial Intelligence (AI). Teknologi yang sebelumnya hanya di uji dalam proyek-proyek kecil kini mulai menjadi bagian penting dari operasional bisnis sehari-hari.
Dalam sesi paparan media, Country Manager AWS Indonesia Anthony Amni mengungkapkan bahwa tingkat adopsi AI untuk kebutuhan bisnis melonjak dari 28 persen pada 2025 menjadi 40 persen pada 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan yang tidak lagi memandang AI sebagai eksperimen, melainkan sebagai investasi strategis.
Gelombang Kedua AI Di mulai Lewat Agentic AI
Perusahaan menerapkan AI juga mengalami perubahan. Sebanyak 44 persen perusahaan yang telah mengadopsi AI kini menjalankannya pada tahap produksi skala penuh. Artinya, AI telah digunakan langsung dalam aktivitas bisnis utama, bukan lagi sekadar proyek percobaan. Perubahan ini di dorong oleh munculnya Agentic AI, generasi baru sistem kecerdasan buatan yang mampu bekerja lebih mandiri. Teknologi tersebut tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga dapat mengeksekusi rangkaian pekerjaan kompleks secara otomatis.
Anthony menjelaskan bahwa enam dari sepuluh perusahaan yang di survei telah bergerak menuju pemanfaatan Agentic AI. Dampaknya mulai terasa nyata. Implementasi teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi operasional hingga 47 persen, mendongkrak produktivitas tenaga kerja menjadi 76 persen, naik dari 68 persen pada tahun sebelumnya, sekaligus mempercepat proses inovasi hingga 72 persen.
Startup Menjadi Pemenang Terbesar
Startup menjadi kelompok yang paling agresif memanfaatkan AI sebagai mesin pertumbuhan bisnis. Riset yang di paparkan AWS menunjukkan bahwa startup pengguna AI di Indonesia memproyeksikan pertumbuhan pendapatan hingga 140 persen. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa AI mulai memberikan dampak langsung terhadap performa finansial perusahaan.
Bahkan, startup yang mengadopsi AI memiliki peluang 48 kali lebih besar untuk melipatgandakan pendapatan hingga melampaui USD1 miliar di bandingkan perusahaan yang bergerak lebih lambat dalam transformasi digital. Optimisme juga terlihat sangat tinggi. Sebanyak 97 persen startup percaya bahwa penerapan AI akan memberikan peningkatan pendapatan yang signifikan dalam satu tahun ke depan.
Tantangan Terbesar Bukan Teknologi, Melainkan Menghitung Nilai Investasi
Perjalanan adopsi AI ternyata belum sepenuhnya mulus. Semakin luas penggunaan AI, semakin besar pula pertanyaan yang muncul di ruang rapat para eksekutif. Bukan lagi soal apakah AI perlu digunakan, melainkan apakah investasi tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan yang sepadan. Anthony mengungkapkan bahwa 47 persen perusahaan di Indonesia masih mengalami kesulitan mengukur Return on Investment (ROI) dari implementasi AI secara akurat.
Persoalan lainnya adalah meningkatnya biaya operasional. Pengeluaran untuk konsumsi token, akses API, serta kebutuhan komputasi AI mulai menjadi perhatian serius, terutama ketika implementasi di lakukan dalam skala besar. Kondisi ini membuat perusahaan harus semakin cermat dalam menentukan strategi penggunaan AI agar biaya tidak membengkak tanpa memberikan manfaat yang jelas.
Strategi AWS: Gunakan Model AI Sesuai Kebutuhan
AWS menekankan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak selalu bergantung pada penggunaan model terbesar atau paling canggih. Anthony menjelaskan bahwa tidak ada satu Large Language Model (LLM) yang cocok untuk seluruh kebutuhan bisnis. perusahaan di sarankan menerapkan strategi over-the-wave models, yakni mengombinasikan beberapa model AI sesuai karakter pekerjaannya.
Model berukuran sedang yang lebih hemat biaya dapat digunakan untuk tugas-tugas rutin, sementara model berkapasitas tinggi hanya di aktifkan ketika menangani pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analisis lebih kompleks. Pendekatan tersebut juga perlu di barengi pemantauan biaya secara near real-time agar setiap investasi AI tetap efisien, terukur, dan mampu memberikan dampak nyata terhadap produktivitas maupun pertumbuhan bisnis.
AI Memasuki Babak Baru Transformasi Bisnis
Lonjakan adopsi AI hingga menyentuh 40 persen menjadi penanda bahwa perusahaan Indonesia semakin siap memasuki era bisnis berbasis kecerdasan buatan. Namun, babak berikutnya tidak lagi hanya berbicara tentang seberapa cepat perusahaan mengadopsi teknologi. Yang lebih menentukan adalah kemampuan mengelola biaya, memilih model AI yang tepat, serta memastikan setiap investasi benar-benar menghasilkan nilai bisnis yang terukur.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, AI bukan lagi sekadar alat pendukung. Ia perlahan berubah menjadi fondasi baru bagi perusahaan yang ingin bertahan dan tumbuh lebih cepat di era ekonomi digital.
(A/*)










