Khabaroo.com – Asia Tenggara belum sepenuhnya memasuki puncak musim kering, tetapi tanda-tandanya sudah terlihat. Curah hujan mulai berkurang di sejumlah wilayah, suhu udara perlahan meningkat, dan ancaman kebakaran lahan kembali menghantui. Di balik perubahan itu, ada satu faktor yang kini menjadi perhatian utama para ahli iklim: El Nino yang di perkirakan terus menguat dalam beberapa bulan mendatang.
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) mengeluarkan peringatan terbaru melalui prakiraan musim yang di rilis pada Selasa, 4 Agustus 2026. Lembaga tersebut memperkirakan fenomena El Nino akan terus berkembang hingga beberapa bulan ke depan dan memengaruhi pola cuaca di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara. Mengutip laporan Xinhua pada Rabu, 5 Agustus 2026, ASMC menyebut dampak paling nyata akan terasa selama periode Agustus hingga Oktober. Pada rentang waktu itu, sebagian besar wilayah selatan ASEAN di perkirakan mengalami penurunan curah hujan yang signifikan.
Pola Angin Berubah, Wilayah Selatan ASEAN Semakin Kering
ASMC menjelaskan bahwa musim angin barat daya di perkirakan tetap mendominasi sepanjang Agustus hingga Oktober. Arah angin utama berasal dari tenggara dan barat daya, sementara pita hujan monsun di perkirakan bertahan di utara garis khatulistiwa. Kondisi tersebut membuat distribusi hujan menjadi tidak merata. Negara-negara di bagian selatan ASEAN di perkirakan mengalami cuaca lebih kering di banding biasanya. Sebaliknya, wilayah utara ASEAN justru berpotensi menerima curah hujan yang lebih tinggi. Perubahan pola atmosfer ini menjadi salah satu indikator bahwa pengaruh El Nino mulai semakin kuat terhadap dinamika cuaca regional.
Suhu Lebih Tinggi, Risiko Kebakaran Hutan Meningkat
Tidak hanya mengurangi hujan, El Nino juga di perkirakan mendorong kenaikan suhu di sebagian besar kawasan ASEAN. Kombinasi panas ekstrem dan minimnya curah hujan berpotensi mempercepat pengeringan vegetasi maupun lahan gambut. Akibatnya, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat secara signifikan. ASMC juga memperingatkan bahwa kondisi kering berkepanjangan dapat memicu bertambahnya titik panas (hotspot), yang selama ini menjadi indikator awal munculnya kebakaran di berbagai wilayah. Jika tidak di kendalikan sejak dini, kebakaran tersebut berpotensi meluas dan semakin sulit di padamkan, terutama di kawasan dengan lahan gambut yang mudah terbakar.
Ancaman Kabut Asap Lintas Negara Kembali Mengintai
Peringatan ASMC tidak berhenti pada ancaman kebakaran. Arah angin dominan dari tenggara dan barat daya di nilai dapat membawa asap hasil kebakaran melintasi batas negara. Artinya, kabut asap berpotensi kembali memengaruhi kualitas udara di sejumlah negara ASEAN. Dampaknya bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga aktivitas transportasi, pendidikan, hingga sektor pariwisata.
Karena itu, ASMC mengimbau setiap negara meningkatkan pemantauan terhadap titik panas, memperkuat sistem pencegahan kebakaran, serta mempererat koordinasi lintas negara. Langkah tersebut di nilai penting untuk menekan penyebaran asap dan mengurangi dampak lingkungan yang lebih luas.
Pertanian dan Cadangan Air Berada di Titik Rawan
Dampak El Nino juga di perkirakan menjalar ke sektor yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Jika musim kering berlangsung lebih lama dari perkiraan, produktivitas pertanian berpotensi menurun akibat berkurangnya pasokan air. Selain itu, cadangan air di sejumlah wilayah juga dapat tertekan. Kondisi tersebut berisiko memengaruhi kebutuhan irigasi, pasokan air bersih, hingga ketahanan pangan apabila tidak di antisipasi sejak awal.
ASMC menegaskan bahwa penguatan El Nino menjadi faktor utama yang meningkatkan peluang terjadinya cuaca panas dan kekeringan di Asia Tenggara dalam beberapa bulan ke depan. Bersamaan dengan itu, ancaman kebakaran hutan, lahan, serta kabut asap lintas batas di perkirakan ikut meningkat sehingga kesiapsiagaan setiap negara menjadi kunci untuk menekan dampaknya.
(A/*)










