Khabaroo.com – Ledakan itu mengubah sejarah dunia Pada 6 Agustus 1945, bom atom di jatuhkan di Hiroshima. Tiga hari kemudian, giliran Nagasaki menjadi sasaran. Dalam hitungan detik, dua kota di Jepang luluh lantak dan ratusan ribu orang menjadi korban. Peristiwa tersebut hingga kini masih menjadi satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam peperangan.
Namun, lebih dari delapan dekade kemudian, muncul pertanyaan yang terus berulang: mengapa Hiroshima dan Nagasaki kini dapat di huni dengan aman, padahal dahulu di penuhi radiasi mematikan? Jawabannya berkaitan dengan karakteristik radiasi yang di hasilkan bom atom serta proses peluruhan radioaktif yang berlangsung sangat cepat.
Sebagian Besar Radiasi Hilang dalam Hitungan Hari
Berdasarkan informasi resmi Pemerintah Kota Hiroshima, tingkat radiasi di Hiroshima dan Nagasaki saat ini telah kembali ke kisaran radiasi latar belakang alami yang di temukan di berbagai wilayah di dunia. Ketika bom atom meledak, energi yang di lepaskan terdiri atas beberapa komponen. Sekitar lima persen berupa radiasi awal (initial radiation), sedangkan sekitar sepuluh persen lainnya merupakan radiasi sisa (residual radiation). Sisanya di lepaskan dalam bentuk gelombang kejut, panas ekstrem, dan energi lainnya.
Radiasi awal muncul hanya beberapa detik setelah ledakan. Paparan inilah yang menjadi penyebab utama tingginya angka kematian, terutama bagi warga yang berada dalam radius sekitar satu kilometer dari titik ledakan. Sementara itu, radiasi sisa memang tetap berada di lingkungan. Namun, sifatnya tidak bertahan lama seperti yang banyak di bayangkan.
Mengapa Radiasi Menurun Sangat Cepat?
Fakta ilmiah menunjukkan bahwa sekitar 80 persen radiasi sisa di lepaskan hanya dalam 24 jam pertama setelah ledakan. Proses peluruhan radioaktif kemudian berlangsung sangat cepat. Dalam waktu sekitar satu minggu, tingkat radiasi telah turun hingga sekitar sepersejuta di bandingkan kondisi sesaat setelah bom meledak.
Penurunan drastis tersebut membuat paparan radiasi di lingkungan terus berkurang dari waktu ke waktu. Setelah puluhan tahun berlalu, kadar radiasi di kedua kota tersebut tidak lagi berbeda secara signifikan di bandingkan radiasi alami yang memang selalu ada di permukaan Bumi. Inilah alasan utama mengapa Hiroshima dan Nagasaki kini dapat berkembang menjadi kota modern dengan jutaan penduduk tanpa menghadapi ancaman radiasi tinggi.
Dampak bagi Korban Tidak Langsung Berakhir
Dampaknya terhadap para penyintas tidak berhenti ketika ledakan usai. Paparan radiasi dosis tinggi menyebabkan kerusakan pada materi genetik di dalam sel tubuh. Kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi berbagai penyakit serius, termasuk leukemia dan berbagai jenis kanker.
Yang membuat kondisi ini semakin kompleks, gejalanya tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Pada banyak kasus, penyakit baru berkembang bertahun-tahun bahkan puluhan tahun setelah seseorang terpapar radiasi. ribuan penyintas bom atom terus dipantau selama beberapa dekade guna memahami konsekuensi jangka panjang dari paparan radiasi terhadap kesehatan manusia.
Penelitian Masih Berlanjut Hingga Kini
Hingga sekarang, ilmuwan masih terus mempelajari efek biologis radiasi terhadap manusia. Sejumlah pertanyaan mengenai dampak jangka panjang, risiko penyakit pada generasi berikutnya, hingga pengaruh paparan dosis rendah masih menjadi fokus penelitian internasional.
Data dari para penyintas Hiroshima dan Nagasaki menjadi salah satu sumber ilmiah paling penting dalam pengembangan standar keselamatan radiasi dunia, termasuk untuk bidang medis, industri, dan energi nuklir. Tragedi yang terjadi pada Agustus 1945 bukan hanya meninggalkan luka sejarah. Peristiwa tersebut juga menjadi pelajaran besar mengenai bahaya senjata nuklir sekaligus dasar bagi berbagai penelitian yang terus berupaya melindungi manusia dari risiko paparan radiasi di masa depan.
(A/*)










