Khabaroo.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah pola investasi di pasar modal Indonesia. Teknologi kini membantu investor memperoleh informasi lebih cepat, mengolah data lebih efisien, hingga memahami pergerakan pasar dalam waktu singkat. Namun, di balik kemudahan tersebut, pelaku industri mengingatkan bahwa AI hanyalah alat pendukung. Keputusan investasi tetap harus di dasarkan pada analisis, pemahaman risiko, dan tujuan keuangan masing-masing investor. Perubahan ini menunjukkan bahwa digitalisasi pasar modal tidak hanya menghadirkan peluang baru, tetapi juga menuntut investor memiliki literasi yang lebih baik agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.
AI Mempercepat Analisis Pasar hingga 70 Persen
Direktur Tuntun Sekuritas Indonesia, Ricki Juliandi, mengatakan perilaku investor telah berubah seiring berkembangnya teknologi. Investor kini menginginkan akses informasi yang lebih cepat, analisis yang lebih mendalam, serta data yang mudah di pahami sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, kebutuhan tersebut mendorong perusahaan mengembangkan berbagai layanan berbasis AI dan riset yang mampu mempercepat proses analisis pasar. Dalam ajang Tuntun Investment Talk bertema Modern Trading & Investing di Era AI di Bursa Efek Indonesia, perusahaan memperkenalkan sejumlah fitur digital seperti Tuntun AI, AI Broker Summary, Tuntun Research, Market Radar, dan Concept Sector.
Data internal perusahaan menunjukkan bahwa sejak di luncurkan pada April 2026, Tuntun AI telah digunakan untuk menjawab lebih dari 50 ribu pertanyaan pengguna serta menghasilkan lebih dari 1,2 juta analisis. Perusahaan juga mengklaim teknologi tersebut mampu membantu pengguna memahami data pasar hingga 70 persen lebih cepat. Bagi investor ritel, percepatan ini berarti proses menyaring informasi menjadi lebih efisien. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk membaca berbagai laporan kini dapat di persingkat melalui rangkuman dan analisis berbasis AI.
Peluang Meningkat, Risiko Tetap Harus Di kelola
Meski AI menawarkan efisiensi, Ricki menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi. Menurutnya, AI tidak mampu menggantikan judgment atau penilaian investor terhadap kondisi pasar yang terus berubah. Faktor seperti profil risiko, target keuntungan, kondisi ekonomi, hingga strategi investasi tetap harus menjadi pertimbangan utama.
Penjelasan sederhananya, AI dapat membantu menghitung dan menyajikan berbagai kemungkinan berdasarkan data historis. Namun, AI tidak dapat memastikan arah pasar di masa depan karena harga saham juga di pengaruhi sentimen, kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi global, hingga psikologi pelaku pasar. Artinya, semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin penting pula kemampuan investor memahami risiko investasi.
Riset Menjadi Fondasi Pengambilan Keputusan
Selain mengembangkan AI, Tuntun Sekuritas terus memperkuat layanan riset sebagai dasar analisis investasi. Saat ini perusahaan menyediakan cakupan riset terhadap lebih dari 600 emiten yang di perbarui secara berkala melalui laporan jangka pendek agar sesuai dengan dinamika pasar.
Keberadaan riset ini menjadi pelengkap AI. Jika AI membantu mengolah data dalam jumlah besar secara cepat, riset memberikan penjelasan mengenai kondisi fundamental perusahaan, prospek bisnis, hingga faktor ekonomi yang memengaruhi harga saham. Kombinasi keduanya di harapkan menghasilkan keputusan investasi yang lebih rasional dan berbasis data.
Prospek Ekonomi Indonesia Menjadi Modal Positif
Tuntun Sekuritas menilai prospek ekonomi Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar. Optimisme tersebut menjadi alasan perusahaan terus memperkuat pengembangan teknologi, riset, dan edukasi bagi investor. Dari sisi ekonomi, meningkatnya pemanfaatan AI di industri pasar modal berpotensi memperluas partisipasi investor karena akses terhadap informasi menjadi lebih mudah dan cepat.
Namun, peluang tersebut juga di iringi tantangan. Tanpa literasi keuangan yang memadai, investor berisiko terlalu bergantung pada rekomendasi teknologi tanpa memahami risiko yang melekat pada setiap instrumen investasi. Peningkatan literasi menjadi faktor penting agar transformasi digital di pasar modal benar-benar menghasilkan investor yang lebih cerdas, bukan sekadar lebih cepat dalam bertransaksi.
Literasi Digital Menjadi Kunci Investasi Berkelanjutan
Di era digital, kemampuan investor tidak lagi di ukur dari seberapa cepat membeli atau menjual saham. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca informasi, memahami risiko, mengevaluasi data, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. AI dapat menjadi mitra dalam proses investasi, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan investor. Dengan memadukan teknologi, riset yang kredibel, serta pemahaman terhadap kondisi ekonomi, investor memiliki peluang lebih besar untuk mengambil keputusan yang terukur sekaligus mengelola risiko secara lebih baik.
(A/*)










