Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

LCT Indonesia-Singapura memudahkan transaksi rupiah dan dolar Singapura.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
(Foto: Sufri Yuliardi
/wartaekonomi/AI)

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura (Foto: Sufri Yuliardi /wartaekonomi/AI)

Khabaroo.com – Indonesia dan Singapura resmi mengoperasikan kerangka Local Currency Transaction (LCT) untuk transaksi bilateral menggunakan rupiah dan dolar Singapura. Kebijakan ini menjadi langkah baru Bank Indonesia (BI) untuk memperluas penggunaan mata uang lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

BI bersama Monetary Authority of Singapore (MAS) mengumumkan operasionalisasi kerangka tersebut pada Senin (31/8/2026). Implementasinya merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang di teken pada Agustus 2022. Kedua bank sentral kemudian menyepakati pedoman operasional pada April 2026.

Kerangka tersebut selanjutnya di perkuat melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 25 Tahun 2026 tentang Penyelesaian Transaksi Bilateral antara Indonesia dan Singapura Menggunakan Rupiah dan Dolar Singapura melalui Bank.

Mengapa LCT Penting bagi Pelaku Usaha?

Secara sederhana, LCT memungkinkan transaksi Indonesia-Singapura menggunakan rupiah dan dolar Singapura secara lebih langsung, tanpa harus selalu mengonversi transaksi melalui dolar AS. perusahaan yang melakukan perdagangan atau investasi lintas negara, mekanisme ini berpotensi memangkas biaya konversi mata uang. Pelaku usaha juga memiliki alternatif untuk mengelola risiko ketika nilai tukar dolar AS bergerak volatil.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kerangka LCT di harapkan memperkuat perdagangan bilateral sekaligus mendorong integrasi keuangan ASEAN. Artinya, manfaat LCT tidak hanya berkaitan dengan transaksi perbankan. Dalam jangka lebih panjang, mekanisme ini dapat memperluas penggunaan mata uang lokal dalam aktivitas ekonomi kawasan.

12 Bank Jadi Penggerak Transaksi LCT

Implementasi LCT Indonesia-Singapura dilakukan melalui bank yang ditunjuk sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).

Di Indonesia terdapat sembilan bank ACCD yang akan memfasilitasi transaksi rupiah-dolar Singapura, yaitu:

  1. PT Bank Central Asia Tbk.
  2. PT Bank CIMB Niaga Tbk.
  3. PT Bank DBS Indonesia.
  4. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
  5. PT Bank Maybank Indonesia Tbk.
  6. PT Bank Negara Indonesia Tbk.
  7. PT Bank OCBC NISP Tbk.
  8. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk.
  9. PT Bank UOB Indonesia.

Sementara itu, Singapura menunjuk tiga bank ACCD, yakni DBS Bank Ltd, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, dan United Overseas Bank Limited. Dengan jaringan tersebut, transaksi LCT dapat digunakan untuk transaksi berjalan, investasi langsung, serta pembayaran lintas negara.

Ada Kuotasi Langsung Rupiah-SGD

Salah satu fitur utama skema baru ini adalah kuotasi langsung rupiah terhadap dolar Singapura. pelaku usaha, perubahan ini penting karena memberikan jalur transaksi yang lebih sederhana. Selain itu, BI dan MAS memberikan relaksasi terhadap sejumlah ketentuan untuk mendorong penggunaan mata uang lokal.

Baca Juga :  Dana Simpeda Tembus Rp74,86 Triliun, BPD Punya Amunisi Perkuat Ekonomi Daerah

Tujuannya jelas: membuat transaksi dalam rupiah dan dolar Singapura semakin praktis sehingga pelaku usaha tidak harus menjadikan dolar AS sebagai mata uang perantara dalam setiap transaksi. BI menilai skema tersebut dapat memberikan fleksibilitas lebih besar sekaligus membantu mengurangi risiko nilai tukar dan biaya transaksi.

Nilai LCT Melonjak 74 Kali Lipat

Pertumbuhan LCT menunjukkan bahwa mekanisme transaksi menggunakan mata uang lokal semakin mendapat tempat, Ketika pertama kali di terapkan pada 2018, nilai transaksi LCT tercatat sekitar US$348 juta, Setahun kemudian, nilainya meningkat menjadi US$760 juta.

Pertumbuhan kemudian berlanjut. Pada 2025, nilai transaksi LCT telah mencapai US$25,66 miliar, Jika di bandingkan dengan posisi awal pada 2018, nilai tersebut setara sekitar 74 kali lipat. Lonjakan itu menjadi indikator bahwa LCT tidak lagi sekadar alternatif kebijakan moneter. Mekanisme tersebut mulai digunakan dalam aktivitas ekonomi lintas negara dengan nilai yang semakin besar.

Baru Lima Bulan, Transaksi 2026 Sudah Lampaui 2025

Dalam periode Januari-Mei 2026 saja, nilai transaksi LCT telah mencapai US$32,89 miliar, setara sekitar Rp592 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS. Angka tersebut bahkan sudah melampaui total transaksi sepanjang 2025 yang sebesar US$25,66 miliar.

Secara sederhana, transaksi LCT dalam lima bulan pertama 2026 sudah sekitar 28 persen lebih tinggi di bandingkan total sepanjang 2025. Ini menunjukkan pertumbuhan penggunaan mata uang lokal berlangsung cukup agresif. Namun, angka besar tersebut juga perlu di baca secara hati-hati. Pertumbuhan transaksi LCT tidak otomatis berarti seluruh risiko nilai tukar hilang. Pelaku usaha tetap menghadapi perubahan nilai rupiah dan dolar Singapura terhadap mata uang lain, termasuk dolar AS.

Dari Malaysia hingga Singapura

Perluasan LCT sebenarnya bukan kebijakan yang baru di mulai pada 2026, BI pertama kali mengimplementasikan skema tersebut pada 2018 melalui kerja sama dengan Malaysia dan Thailand. Pada 2019, kerja sama di perluas ke Jepang. Kemudian China bergabung pada 2021.

Baca Juga :  Omzet Melejit, Narita Shibori Justru Perluas Pemberdayaan Disabilitas

Pada 2024, dua negara lain masuk dalam jaringan tersebut, yakni Korea Selatan dan Uni Emirat Arab (UEA). Dengan demikian, terdapat enam negara mitra aktif dalam implementasi LCT sebelum perluasan kerja sama dengan Singapura, BI juga terus menjajaki perluasan LCT ke negara lain, termasuk India dan Arab Saudi.

Peluang: Biaya Transaksi Bisa Lebih Efisien

Dari sisi bisnis, keuntungan paling mudah terlihat adalah peluang menekan biaya transaksi. Ketika transaksi dapat dilakukan menggunakan mata uang lokal, kebutuhan konversi melalui mata uang ketiga dapat berkurang. Bagi eksportir dan importir, efisiensi semacam ini bisa menjadi faktor penting, terutama untuk transaksi dengan frekuensi tinggi.

LCT juga memberikan pilihan tambahan bagi perusahaan dalam mengelola valuta asing, Semakin banyak pilihan mata uang yang tersedia, semakin fleksibel perusahaan menentukan strategi pembayaran dan pengelolaan risiko kurs.

Risiko: Ketergantungan Dolar AS Belum Hilang

LCT bukan berarti Indonesia dapat langsung meninggalkan dolar AS. Dolar AS masih menjadi mata uang dominan dalam perdagangan dan sistem keuangan global. Karena itu, LCT lebih tepat di pahami sebagai di versifikasi jalur transaksi, bukan penghapusan penggunaan dolar AS.

Risiko lainnya adalah likuiditas dan keseimbangan transaksi rupiah-SGD. Semakin besar volume LCT, semakin penting memastikan pasar valuta asing kedua mata uang memiliki likuiditas yang memadai. Keberhasilan skema ini pada akhirnya bergantung pada tiga hal: volume transaksi, efisiensi biaya, dan kepercayaan pelaku usaha.

Singapura Bisa Menjadi Pasar Strategis

Kerja sama LCT dengan Singapura berpotensi memperluas penggunaan rupiah dalam transaksi ekonomi regional. Pada saat yang sama, perusahaan Indonesia memperoleh kanal yang lebih fleksibel untuk melakukan pembayaran dan investasi dengan mitra Singapura. Jika volume transaksi terus meningkat, efeknya tidak hanya di rasakan sektor perbankan. Aktivitas perdagangan, investasi, dan bisnis lintas batas juga berpeluang mendapatkan manfaat.

Pada akhirnya, keberhasilan LCT akan di tentukan oleh seberapa jauh mekanisme tersebut benar-benar digunakan pelaku usaha. Data hingga Mei 2026 memberikan sinyal positif. Nilai transaksi yang sudah mencapai US$32,89 miliar menunjukkan penggunaan mata uang lokal terus berkembang. Tantangannya kini bukan lagi sekadar memperkenalkan LCT, tetapi membuatnya semakin efisien, likuid, dan menarik bagi dunia usaha.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan
Produktivitas Padi Dairi Melejit 100 Persen, Capai 12,3 Ton per Hektare
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta

Berita Terbaru