Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan

Pemerintah siap menambah anggaran karhutla sesuai kebutuhan di lapangan.

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan 
(Foto: Dok. Kemenkeu/liputan6
/AI)

Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan (Foto: Dok. Kemenkeu/liputan6 /AI)

Khabaroo.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah siap menyediakan anggaran untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Namun, pemerintah belum menetapkan berapa dana yang secara khusus akan dialokasikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih menghitung kebutuhan berdasarkan perkembangan karhutla di lapangan.

Purbaya mengatakan penyaluran anggaran akan dilakukan melalui BNPB. Saat ini, lembaga tersebut memiliki dana sekitar Rp5 triliun untuk penanganan bencana. Jika kebutuhan penanganan karhutla melampaui dana yang tersedia, pemerintah siap menambah anggaran, “Mereka punya Rp5 triliun. Kalau kurang, ya kita tambah nanti,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Rp5 Triliun Jadi Dana Awal Penanganan

Dana sekitar Rp5 triliun yang tersedia di BNPB menjadi bantalan awal untuk merespons kebutuhan darurat, Skema ini membuat pemerintah tidak harus menetapkan seluruh anggaran sejak awal. BNPB terlebih dahulu menghitung kebutuhan, kemudian mengajukan tambahan apabila dana yang tersedia tidak mencukupi. Purbaya menilai pendekatan tersebut lebih masuk akal karena karhutla masih berlangsung.

Besaran kebutuhan dapat berubah mengikuti luas wilayah terdampak, durasi penanganan, kebutuhan personel, peralatan, hingga operasi pemadaman.“BNPB belum ngasih biaya total, ya kita enggak tahu berapanya. Ini masih terjadi, dia akan ases ulang,” ujarnya. Menurut Purbaya, kebutuhan anggaran karhutla di Kalimantan diperkirakan tidak sebesar penanganan bencana di Aceh yang dinilai jauh lebih masif.

Baca Juga :  Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos

Pemerintah Buka Ruang Tambahan Anggaran

Dari perspektif pengelolaan APBN, pemerintah memilih menyediakan ruang fiskal berdasarkan kebutuhan nyata. Artinya, anggaran tidak sekadar mengejar angka besar, tetapi harus mengikuti tingkat kerusakan dan kebutuhan operasi, Purbaya memastikan ketersediaan uang bukan hambatan utama dalam mempercepat penanganan karhutla.

“Kita sih uangnya siap terus, tinggal BNPB operasinya seperti apa,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa tantangan penanganan karhutla tidak hanya berada pada sisi pembiayaan. Kecepatan respons, koordinasi antarlembaga, pemadaman di lapangan, serta akurasi asesmen juga menentukan efektivitas belanja pemerintah.

Purbaya Ingatkan Risiko Mark Up

Purbaya memberikan batas yang tegas: setiap penggunaan dana harus dapat di pertanggungjawabkan, Ketika ditanya apakah pemerintah siap memenuhi berapa pun kebutuhan yang diajukan BNPB, Purbaya mengiyakan dengan catatan tidak ada penggelembungan anggaran. “Iya, asal jangan di-mark up aja,” ujarnya.

Pesan tersebut penting dari sisi ekonomi. Belanja bencana memiliki tekanan waktu tinggi sehingga pengawasan tetap di butuhkan agar dana publik benar-benar digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Jika pengawasan lemah, tambahan anggaran berisiko tidak menghasilkan dampak yang sebanding. Sebaliknya, apabila dana di salurkan tepat sasaran, belanja tersebut dapat mempercepat pemulihan wilayah terdampak dan mengurangi kerugian ekonomi yang lebih besar.

Belanja Bencana Berbeda dengan Program Reguler

Karhutla bukan sekadar persoalan belanja negara. Dampaknya dapat menyentuh keselamatan masyarakat, aktivitas ekonomi, lingkungan, kesehatan, transportasi, hingga produktivitas daerah. “Kalau untuk bencana, approach-nya beda dengan belanja biasa,” kata Purbaya. Karena itu, pemerintah memiliki alasan untuk lebih responsif ketika kebutuhan dana muncul. Dalam kondisi darurat, keterlambatan pembiayaan justru dapat memperbesar biaya ekonomi pada tahap berikutnya.

Baca Juga :  Omzet UMKM Binaan Pertamina Tembus Rp8,57 Miliar, Akses Pasar Jadi Kunci

Kementerian Kehutanan Juga Ajukan Anggaran

Penanganan karhutla juga melibatkan Kementerian Kehutanan, Purbaya menyebut kementerian tersebut telah mengajukan kebutuhan anggaran untuk penanganan karhutla. Sebagian dana yang di ajukan juga telah di berikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembiayaan karhutla tidak bertumpu pada satu pos atau satu lembaga saja. Pemerintah menggunakan beberapa jalur anggaran sesuai dengan kewenangan dan kebutuhan masing-masing institusi.

Dampak Ekonomi: Biaya Pencegahan Lebih Penting

Karhutla yang meluas dapat mengganggu kegiatan masyarakat, distribusi barang, sektor perkebunan dan pertanian, serta aktivitas bisnis di wilayah terdampak. tambahan anggaran dapat dipandang sebagai investasi untuk menekan potensi kerugian ekonomi. Semakin cepat api di kendalikan, semakin kecil pula biaya yang harus di tanggung masyarakat dan pemerintah.

Namun, peluang tersebut berjalan beriringan dengan risiko. Penggunaan dana darurat harus tetap transparan, berbasis kebutuhan lapangan, dan memiliki mekanisme pengawasan yang kuat. Dengan dana BNPB sekitar Rp5 triliun dan komitmen pemerintah untuk menambah anggaran bila di perlukan, persoalan berikutnya berada pada kemampuan BNPB menghitung kebutuhan secara akurat dan memastikan setiap rupiah menghasilkan penanganan yang efektif.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Produktivitas Padi Dairi Melejit 100 Persen, Capai 12,3 Ton per Hektare
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta

Berita Terbaru