Khabaroo.com – ASEAN-Japan Centre (AJC) dengan melibatkan generasi muda. Bukan sekadar seminar atau kampanye, AJC mendorong para peserta merancang dan menjalankan aksi lingkungan yang langsung menyentuh masyarakat. Upaya tersebut di wujudkan melalui ASEAN-Japan Young Environmental Leaders Network (AJYELN) 2.0 Fellows 2026.
Program ini resmi di luncurkan secara daring pada 7 Juli 2026. Sebanyak 29 pemimpin muda bidang lingkungan dari 10 negara ASEAN dan Jepang ikut bergabung dalam program tersebut. Timor Leste belum masuk dalam cakupan peserta karena negara tersebut belum menjadi anggota AJC.
Dari Pelatihan Menuju Aksi Nyata
AJYELN 2.0 tidak di rancang berhenti pada pertukaran gagasan. Para peserta akan menjalankan berbagai inisiatif berbasis masyarakat untuk merespons persoalan pencemaran plastik dan tantangan lingkungan di negara masing-masing. Rangkaian program mencakup pelatihan, pendampingan, pertukaran pengalaman tingkat kawasan, hingga pelaksanaan proyek lingkungan.
Dengan pola tersebut, peserta tidak hanya di bekali pengetahuan mengenai isu lingkungan. Mereka juga di arahkan memahami bagaimana sebuah gagasan dapat di terjemahkan menjadi proyek yang terukur dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menilai keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan ASEAN dan Jepang.
Hal itu di sampaikannya saat pembukaan pameran AJC di Markas Besar ASEAN, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026. “Kehadiran mereka mencerminkan komitmen bersama kita untuk memberdayakan generasi pemimpin masa depan. Sekaligus memperkuat konektivitas antarmasyarakat yang telah lama membentuk hubungan, kerja sama, dan kemitraan ASEAN-Jepang.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa agenda lingkungan di tempatkan lebih luas. Sampah plastik menjadi pintu masuk untuk membangun jaringan generasi muda lintas negara.
Sampah Plastik Laut Jadi Titik Temu
Sekretaris Jenderal AJC Kunihiko Hirabayashi mengatakan para peserta memiliki orientasi kuat pada aksi. Perhatian mereka terutama tertuju pada sampah plastik laut dan berbagai persoalan lingkungan yang muncul di sekitarnya. Menurut pria yang akrab di sapa Chris itu, para pemimpin muda tersebut tidak melihat pencemaran plastik hanya sebagai persoalan lokal.
“Mereka melihat persoalan sampah plastik laut dan persoalan lingkungan bukan hanya sebagai persoalan di komunitas mereka sendiri. Mereka ingin mengatasi persoalan tersebut dengan pendekatan yang lebih luas.” Pandangan tersebut menjadi penting karena pencemaran plastik memiliki karakter lintas wilayah. Sampah yang masuk ke aliran sungai, misalnya, tidak selalu berhenti di tempat asalnya. solusi yang di bangun melalui jejaring regional dapat membuka ruang bagi pertukaran metode, pengalaman, dan inovasi antarkomunitas.
Setiap Negara Punya Cara Berbeda
AJC tidak memberikan satu resep yang harus di terapkan seluruh peserta. Sebaliknya, program di rancang sebagai pelatihan kepemimpinan yang memberikan keleluasaan kepada peserta untuk menentukan bentuk aksi berdasarkan persoalan di komunitas masing-masing. AJC juga menyediakan pendanaan awal atau seed funding serta pelatihan manajemen proyek. Dukungan tersebut di maksudkan agar gagasan yang muncul tidak berhenti sebagai konsep.
Chris menegaskan tujuan program memang sama, tetapi cara mencapainya dapat berbeda. “Tujuan kami satu, tetapi dapat di wujudkan melalui banyak pendekatan yang berbeda. Kami memberikan pengetahuan mengenai bagaimana mengelola proyek dan mengembangkan kepemimpinan, tetapi bentuk aksi konkretnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka.” Program tahun ini mengusung tema “Youth for a Plastic-Resilient Region: Action. Innovation. Transformation.” Tema tersebut menempatkan anak muda bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai pelaksana perubahan di lapangan.
Satu Tahun untuk Menguji Gagasan
Peserta asal Jepang, Taketo Kuniguta, melihat AJYELN 2.0 sebagai kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai persoalan plastik sekaligus mengubah gagasan menjadi tindakan. “Saya menantikan kesempatan untuk membangun jaringan baru melalui gagasan-gagasan baru. Serta bekerja sama menuju tujuan yang sama dalam menangani persoalan sampah plastik laut.”
Program AJYELN 2.0 akan berlangsung selama satu tahun. Selama periode tersebut, para peserta menjalankan proyek di komunitas masing-masing. Mereka juga membangun jejaring secara daring untuk bertukar pengalaman dan melaporkan perkembangan aksi lingkungan.
Di sinilah tantangan sebenarnya di mulai. Keberhasilan program tidak hanya akan di tentukan oleh banyaknya peserta atau jumlah pelatihan yang di gelar. Ukurannya justru berada di lapangan: apakah gagasan yang lahir mampu menghasilkan perubahan nyata terhadap perilaku masyarakat, pengelolaan sampah, dan pencemaran plastik.
Jika berhasil, jaringan 29 pemimpin muda tersebut dapat menjadi lebih dari sekadar forum pertukaran pengalaman. Ia berpotensi menjadi jaringan aksi lintas negara yang menghubungkan persoalan lokal dengan agenda lingkungan kawasan ASEAN-Jepang. Pada akhirnya, perang melawan sampah plastik memang tidak cukup dilakukan dari ruang konferensi. Ia membutuhkan aksi yang di mulai dari komunitas, di uji di lapangan, lalu di bagikan ke negara lain. Dan AJYELN 2.0 mencoba membangun mekanisme itu dari generasi muda.
(A/*)










