Dari TikTok ke Hutan, Jerhemy Owen Buktikan Kreator Muda Bisa Selamatkan Lingkungan

Kreator muda ini membuktikan media sosial bisa menjadi gerakan nyata bagi lingkungan.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 18 Agustus 2026 - 23:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dari TikTok ke Hutan, Jerhemy Owen Buktikan Kreator Muda Bisa Selamatkan Lingkungan
(Foto: Ist/kapanlagi
/AI)

Dari TikTok ke Hutan, Jerhemy Owen Buktikan Kreator Muda Bisa Selamatkan Lingkungan (Foto: Ist/kapanlagi /AI)

Khabaroo.com – Jerhemy Owen memilih jalan berbeda, kreator TikTok sekaligus pemerhati lingkungan ini, media sosial bukan garis akhir. Justru dari sanalah gerakan di mulai. Sejak aktif membuat konten pada 2020, Owen konsisten membawa isu keberlanjutan ke hadapan jutaan pengikutnya. Pengetahuan yang ia dapat dari pendidikan Ilmu Lingkungan di Avans University of Applied Sciences, Belanda, tidak ingin di biarkan menjadi sekadar teori. Ia membawanya turun ke lapangan.

Ketika Satu Bagikan Video Berarti Satu Langkah untuk Bumi

Pada 2025, Owen menggagas Wenanam. Konsepnya sederhana, tetapi melibatkan kekuatan yang selama ini menjadi napas utama media sosial: partisipasi. Masyarakat di ajak membagikan video yang di unggah Owen di TikTok. Setiap 15 kali video di bagikan, kontribusi tersebut di konversikan menjadi satu pohon yang akan di tanam.

Namun, ketika ribuan orang melakukan hal yang sama, dampaknya menjadi jauh lebih besar. Lebih dari 10.000 bibit pohon berhasil di kumpulkan melalui gerakan tersebut. Bibit itu kemudian di tanam di Kampung Cibulao, kawasan hulu Sungai Ciliwung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penanaman melibatkan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, pemerintah daerah, dan WWF Indonesia.

Dampaknya tidak berhenti pada jumlah pohon. Aksi tersebut turut mendukung pemulihan lebih dari 24 hektare kawasan hutan sekaligus membantu menjaga keanekaragaman hayati. Di titik itu, sebuah konten digital berubah menjadi aktivitas yang benar-benar menyentuh tanah.

Dari Cibulao, Gerakan Berlanjut ke Aceh

Pada 2026, gerakan tersebut kembali bergerak melalui kampanye #PohonUntukAceh. Kali ini, perhatian di arahkan pada kawasan hutan yang terdampak banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025. Hingga Juli 2026, kampanye itu telah mengumpulkan 250.000 bibit pohon. Sebagian bibit mulai di tanam di kawasan Hutan Lindung Tenggulun, Aceh Tamiang.

Medannya bukan sekadar hamparan tanah yang harus di hijaukan kembali. Ada fungsi ekologis yang harus di pulihkan, habitat satwa liar yang perlu di jaga. Ada masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan tersebut. Karena itu, Wenanam menggandeng Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), sebuah inisiatif konservasi yang di dukung WWF Indonesia, bersama komunitas lokal. Gerakan itu pun mengambil bentuk yang lebih luas: bukan hanya menanam pohon, tetapi membantu mengembalikan fungsi kawasan dan menjaga ruang hidup satwa.

Baca Juga :  Jangan Nonton Sendirian! Ini Rekomendasi 6 Film Horor Terbaru Tayang September 2026

Bukan Hanya Pohon

Bagi Owen, kepedulian sosial tidak berhenti pada isu lingkungan. Ia juga menjalankan program pembangunan akses air bersih melalui Wengalir, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Selain itu, ia menyebut pembangunan sekolah sebagai bagian dari upaya sosial yang di jalankan. “Beberapa program-program yang mungkin saya sudah kerjain adalah di sosial media, yang pertama-tama itu ada Wenanam, di mana kami menanam pohon tahun lalu, dan juga tahun ini.

Termasuk juga ada pembangunan akses air bersih, yaitu Wengalir, kami membangun akses air bersih di Nusa Tenggara Timur, juga membangun sekolah,” kata Jerhemy Owen. Di sini, media sosial mendapat fungsi yang berbeda. Bukan hanya tempat seseorang di kenal. Tetapi juga tempat sebuah persoalan di perkenalkan, perhatian di kumpulkan, lalu di arahkan menjadi aksi.

Dari Layar Ponsel ke Panggung Dunia

Konsistensi Owen akhirnya membawa isu lingkungan yang ia suarakan ke panggung internasional. Kreator dengan lebih dari 5 juta pengikut dan 280 juta likes di TikTok tersebut menjadi perwakilan Indonesia yang di undang TikTok menghadiri COP29 di Azerbaijan pada 2024.

Setahun kemudian, namanya masuk dalam daftar global TikTok Change Makers 2025, yang menyoroti kreator dengan kontribusi positif. Perjalanan itu menunjukkan satu hal: isu lingkungan tidak selalu harus di suarakan dari ruang konferensi atau forum formal. Kadang, percakapan besar tentang bumi justru di mulai dari layar kecil sebuah ponsel.

Ketika Kreator Muda Menemukan Jalannya Sendiri

Kisah Owen bukan satu-satunya contoh bagaimana kreator muda memanfaatkan platform digital untuk menghasilkan dampak, Ada Elsa Novia, misalnya. Ia menggunakan TikTok untuk mengangkat sejarah dan budaya Tionghoa-Indonesia, terutama Peranakan Tionghoa dan Cina Benteng. Elsa mulai aktif membuat konten pada 2022.

Awalnya, topiknya beragam. Namun, sebuah video mengenai tradisi Tionghoa mendapat respons luas. Dari sana, arah kontennya berubah. Ia mulai lebih serius menggali sejarah dan budaya di sekitarnya. Elsa tidak sekadar mengandalkan apa yang ia temukan di internet. Ia melakukan riset melalui buku dan jurnal serta berdiskusi dengan budayawan Peranakan untuk memastikan informasi yang di sampaikan akurat.

Baca Juga :  Cuma 10–16 Menit per Episode, Ini 7 Drama China yang Enak Buat Maraton

Konten digital itu kemudian berkembang menjadi Benteng Walking Tour, yang ia bangun bersama sang ayah. Tur tersebut membawa orang keluar dari layar dan masuk langsung ke ruang budaya Cina Benteng. “Gara-gara saya buat konten di TikTok, saya membuat tur budaya Tionghoa, namanya Benteng Walking Tour, yang memperkenalkan secara langsung budaya Tionghoa Cina Benteng di daerah saya kepada mungkin orang lokalnya, kepada luar Tangerang,” ujar Elsa. Pesertanya bahkan datang dari luar negeri, termasuk Malaysia, Belanda, Jepang, dan China.

Dari LIVE Shopping untuk Membantu Pelaku Usaha

Cerita berbeda datang dari Hendri Alejandro. Ia memanfaatkan ekosistem affiliate dan LIVE Shopping untuk membantu masyarakat di Desa Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Melalui Ibun Mall, Hendri membantu pelaku usaha rumahan memperluas pemasaran produk mereka melalui kanal digital. Apa yang bermula dari aktivitas perdagangan digital kemudian berkembang menjadi komunitas.

Komunitas Host 1 Miliar kini beranggotakan lebih dari 300 kreator dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memiliki ruang untuk belajar, bertukar pengalaman, dan mengembangkan kemampuan dalam ekosistem LIVE Shopping, Polanya hampir sama. Platform digital menjadi pintu masuk, Dampaknya terjadi di dunia nyata.

Generasi Muda Tidak Lagi Sekadar Penonton

Cerita Jerhemy Owen, Elsa Novia, dan Hendri Alejandro memperlihatkan wajah lain dari ekonomi kreator. Mereka tidak hanya mengejar angka penonton, jumlah pengikut, atau viralitas. Ada yang membawa orang kembali mengenal sejarah, yang membantu usaha rumahan masuk ke pasar digital. Ada pula yang mengubah tombol “bagikan” menjadi bibit pohon.

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar generasi kreator hari ini, Satu video memang hanya berdurasi beberapa detik. Satu unggahan bisa hilang dari linimasa dalam hitungan jam. Tetapi jika perhatian itu berhasil di kumpulkan dan di arahkan ke aksi, dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama. Jerhemy Owen membuktikannya.

Dari TikTok, gerakannya menembus batas layar. Dari sebuah video, ribuan bahkan ratusan ribu bibit pohon mulai menemukan tempat untuk tumbuh. Pada akhirnya, pelestarian lingkungan bukan hanya soal siapa yang menanam pohon. Ini juga soal siapa yang mampu menggerakkan lebih banyak orang untuk ikut menanam.

(A/*)

Berita Terkait

Jangan Nonton Sendirian! Ini Rekomendasi 6 Film Horor Terbaru Tayang September 2026
BIFF 2026 Digelar, 4 Film Indonesia Siap Bawa Cerita Tanah Air ke Asia
Lobang Buaya: Saat Pembunuhan Misterius Membuka Luka Sejarah Indonesia
Trailer Lobang Buaya Bongkar Teror Pembunuhan Berantai, Ada Hantu Bolong
Drama Cinta Terlarang Son Ye Jin dan Ji Chang Wook, The Scandal Siap Bikin Tegang
Teror The Further Menggila, Insidious Raup Rp187 Miliar dalam Sehari
Cuma 10–16 Menit per Episode, Ini 7 Drama China yang Enak Buat Maraton
Never After Dark: Saat Medium Berhadapan dengan Teror Mengerikan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 17:00 WIB

Jangan Nonton Sendirian! Ini Rekomendasi 6 Film Horor Terbaru Tayang September 2026

Kamis, 3 September 2026 - 14:00 WIB

BIFF 2026 Digelar, 4 Film Indonesia Siap Bawa Cerita Tanah Air ke Asia

Selasa, 1 September 2026 - 13:00 WIB

Lobang Buaya: Saat Pembunuhan Misterius Membuka Luka Sejarah Indonesia

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Trailer Lobang Buaya Bongkar Teror Pembunuhan Berantai, Ada Hantu Bolong

Kamis, 27 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Drama Cinta Terlarang Son Ye Jin dan Ji Chang Wook, The Scandal Siap Bikin Tegang

Berita Terbaru