Khabaroo.com – Film horor Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah resmi memperkenalkan official trailer dan final poster. Film garapan sutradara Hanung Bramantyo itu membawa penonton ke sebuah desa bernama Lobang Buaya pada 1964. Hanung menegaskan film tersebut tidak mengisahkan peristiwa 30 September maupun tragedi di Sumur Lubang Buaya.
Kisahnya justru bergerak mundur. Tepatnya 309 hari sebelum 30 September, ketika konflik politik dan ketegangan sosial mulai membelah kehidupan warga sebuah desa. “Ini bukan film tentang 30 September atau G30SPKI, tapi 309 hari sebelum 30 September. Film ini menceritakan peristiwa yang ada di Sumur Lubang Buaya, tapi kejadian pada satu desa bernama Lobang Buaya,” ujar Hanung dalam konferensi pers di Senayan City XXI, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Pembunuhan Terjadi Setiap Tanggal 30
Sejumlah tokoh desa di temukan tewas setiap tanggal 30. Namun, kematian mereka bukan sekadar pembunuhan biasa. Para korban di temukan dengan punggung berlubang. Di sekitar rangkaian kasus tersebut muncul pula berbagai sindiran seperti “tamak”, “lamis”, dan “maruk”. Pola tersebut memunculkan pertanyaan besar: siapa yang membunuh mereka dan mengapa setiap kematian meninggalkan pesan?
Jawabannya menjadi pusat penyelidikan Letnan Soegeng, karakter yang di perankan Baskara Mahendra. Tugas Soegeng bukan sekadar menemukan pelaku. Ia harus membongkar motif di balik pembunuhan sekaligus menghadapi rumor tentang Hantu Bolong yang mulai menghantui masyarakat. Di titik ini, misteri kriminal dan teror supranatural mulai bertemu.
Hantu Bukan Satu-Satunya Sumber Ketakutan
Trailer memperlihatkan suasana desa yang semakin tidak aman. Rumor berkembang, warga berada dalam ketakutan, sementara penyelidikan Soegeng membawa konflik ke lapisan yang lebih dalam, Hanung sengaja tidak menjadikan hantu sebagai satu-satunya mesin ketakutan. Horor dalam film ini juga lahir dari kondisi sosial. Kekuasaan, korupsi, ketidakadilan, dan penindasan menjadi bagian dari sumber teror yang dihadirkan.
“Horror adalah situasi, horror adalah teror yang tidak terjawab. Yang membuat film ini beda, karena menggambarkan situasi itu, yang bisa menakutkan tanpa ada hantu,” kata Hanung. Pendekatan tersebut membuat ancaman dalam Lobang Buaya tidak selalu tampil dalam bentuk makhluk gaib. Ketakutan justru bisa muncul dari sesuatu yang lebih dekat: ketika masyarakat tidak mendapatkan jawaban dan ketidakadilan di biarkan berlangsung.
Hanung Siapkan Multi-Twist
Hanung juga memilih struktur cerita yang tidak mudah di tebak, Ia mengadopsi konsep multi-twist, pendekatan yang menurutnya banyak digunakan industri film Korea Selatan. Dengan metode tersebut, cerita tidak berhenti pada satu kejutan besar. Setiap babak dapat membuka informasi baru sekaligus mengubah cara penonton membaca kejadian sebelumnya.
“Saya menggunakan babak-babak yang dilakukan oleh industri film Korea Selatan saat ini. Film Korea berhasil menyaingi Hollywood dengan twist yang tidak hanya sekali, multi twist,” ujar Hanung. Strategi ini sekaligus menjadi tantangan bagi penonton. Dugaan mengenai siapa pelaku pembunuhan bisa berubah ketika fakta baru muncul.
Baskara Mahendra Ikut Di buat Kesulitan Menebak Pelaku
Baskara Mahendra yang memerankan Soegeng mengaku ikut merasakan ketegangan ketika menyaksikan versi utuh film tersebut. Menurutnya, penyuntingan film di buat dengan tempo cepat. Kondisi itu membuat penonton tidak memiliki banyak ruang untuk menyusun dugaan sendiri. “Rasanya seru banget memerankan peran ini, dan ikut deg-degan waktu nonton versi full. Mas Hanung ngeditnya sangat rapi dan pace-nya cukup cepat, jadi nggak sempat mikir siapa pelakunya,” kata Baskara.
Pernyataan itu memperkuat pendekatan film yang menempatkan penyelidikan sebagai permainan teka-teki. Penonton di ajak mengikuti Soegeng, tetapi pada saat yang sama di buat terus meragukan informasi yang mereka terima.
Sudah Tembus Festival Internasional
Sebelum di jadwalkan hadir di bioskop Indonesia, Lobang Buaya lebih dulu menjalani perjalanan festival, Film ini telah di putar di International Film Festival Rotterdam 2026 pada Januari 2026. Karya tersebut kemudian masuk nominasi kategori B-Extreme dalam Bucheon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan.
Jejak festival itu menjadi salah satu fakta pendukung yang memperlihatkan bahwa film ini tidak hanya di arahkan untuk pasar horor domestik. Konflik sosial dan pendekatan misterinya juga di bawa ke panggung festival internasional.
Tayang 1 Oktober 2026
Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah di produksi Adhya Pictures bersama Dapur Film, Film ini di bintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, dan Anya Zen. Setelah memperkenalkan trailer dan final poster, film tersebut di jadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.
(A/*)










