Khabaroo.com – Harga cabai merah keriting di Kabupaten Kerinci belum menunjukkan perubahan besar. Di tengah biaya produksi yang terus menjadi perhatian, petani di Kecamatan Gunung Tujuh masih menjual hasil panen pada kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Kondisi tersebut menjadi kabar yang relatif melegakan bagi petani. Harga itu dinilai masih cukup untuk menopang biaya yang di keluarkan sejak masa tanam hingga tanaman memasuki masa panen. Namun, persoalannya bukan sekadar berapa harga cabai hari ini. Bagi petani, kestabilan harga justru menjadi faktor penting untuk menentukan apakah usaha tani masih layak di lanjutkan pada musim berikutnya.
Harga di Pengecer Lebih Tinggi
Perbedaan harga terlihat ketika cabai bergerak dari tangan petani menuju pasar. Di tingkat pengecer, cabai merah keriting saat ini di pasarkan sekitar Rp25.000 per kilogram. Sementara itu, petani menerima harga sekitar Rp18.000-Rp20.000 per kilogram. Selisih tersebut mencerminkan adanya biaya distribusi dan aktivitas perdagangan sebelum cabai sampai ke konsumen.
Petani cabai, Nasri, mengatakan harga di tingkat petani saat ini masih tergolong sesuai dengan kondisi biaya produksi. “Untuk harga di tingkat petani saat ini berkisar Rp18.000 sampai Rp20.000 per kilogram. Kalau di tingkat pengecer, harganya sekitar Rp25.000 per kilogram,” kata Nasri, Minggu (23/8/2026).
Biaya Produksi Jadi Perhitungan Utama
Di balik angka Rp18.000-Rp20.000 per kilogram, terdapat sejumlah pengeluaran yang harus di tanggung petani. Mulai dari pembelian bibit, pupuk, obat-obatan, hingga biaya perawatan tanaman. Karena itu, harga jual di tingkat petani tidak bisa di lihat hanya dari nominalnya. Ketika biaya produksi naik, margin keuntungan petani otomatis ikut tertekan meskipun harga cabai terlihat cukup tinggi.
Feby juga menilai harga cabai merah keriting saat ini masih sejalan dengan biaya produksi yang di keluarkan petani. Menurut dia, harga tersebut masih memberikan ruang bagi petani untuk menutup kebutuhan selama proses budidaya sampai panen. Persoalan mulai muncul jika harga bergerak terlalu tajam. Penurunan harga saat panen raya, misalnya, dapat membuat pendapatan petani menyusut setelah seluruh biaya produksi terlanjur di keluarkan.
Petani Tak Hanya Mengejar Harga Tinggi
Petani di Gunung Tujuh, harga tinggi bukan satu-satunya tujuan. Yang lebih di butuhkan adalah pasar yang stabil dan bisa di prediksi. Pasalnya, cabai merupakan komoditas yang sensitif terhadap perubahan pasokan dan permintaan. Ketika produksi melimpah, harga berpotensi tertekan. Sebaliknya, pasokan yang terbatas dapat mendorong harga naik dan memengaruhi pengeluaran konsumen. Situasi itu membuat petani harus menghadapi risiko sejak awal musim tanam. Modal sudah di keluarkan berbulan-bulan sebelumnya, sedangkan harga jual baru di ketahui ketika hasil panen masuk pasar.
Stabilitas Harga Menentukan Masa Depan Petani
Kondisi harga pada Minggu (23/8/2026) menunjukkan cabai merah keriting di tingkat petani Gunung Tujuh masih berada pada rentang Rp18.000-Rp20.000 per kilogram. Di tingkat pengecer, nilainya sekitar Rp25.000 per kilogram. Angka tersebut memang masih di nilai cukup menopang biaya produksi. Namun, keberlanjutan usaha tani tidak hanya di tentukan oleh harga pada satu hari.
Petani membutuhkan kepastian agar perhitungan modal, biaya perawatan, dan potensi keuntungan dapat dilakukan dengan lebih rasional. Jika harga terlalu mudah berfluktuasi, risiko kerugian akan kembali berada di pundak petani. Harapan utama petani cabai di Kerinci bukan sekadar mendapatkan harga setinggi-tingginya. Mereka membutuhkan harga yang stabil, pasar yang sehat, dan keuntungan yang cukup layak untuk membuat usaha tani tetap berjalan.
(A/*)










