Khabaroo.com – Badan usaha milik negara (BUMN) mencatat lonjakan laba pada semester I 2026. Pertumbuhannya tidak seragam, tetapi beberapa perusahaan membukukan kenaikan hingga ratusan persen. PT Timah menjadi salah satu pencetak pertumbuhan laba paling mencolok. Laba bersih perusahaan mencapai Rp2,71 triliun, naik 804,7 persen dibandingkan sekitar Rp300 miliar pada semester I 2025. Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kinerja BUMN tidak hanya terjadi pada sektor perbankan. Pertambangan, pupuk, semen, perkebunan, jasa keuangan, logistik, hingga energi ikut memberikan kontribusi.
Timah Catat Lonjakan Laba 804,7 Persen
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, PT Timah membukukan laba bersih Rp2,71 triliun. Angka tersebut jauh di atas capaian Rp300 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara persentase, laba Timah tumbuh 804,7 persen. Artinya, laba perusahaan meningkat lebih dari delapan kali lipat dibandingkan semester I 2025.
Kinerja tersebut menjadi sinyal penting bagi sektor pertambangan. Namun, pertumbuhan laba yang sangat tinggi juga perlu dilihat bersama faktor harga komoditas, volume produksi, biaya operasional, serta kondisi pasar global. Dengan kata lain, laba yang melonjak belum otomatis berarti fundamental perusahaan sudah sepenuhnya kuat. Keberlanjutan kinerja pada semester II akan menjadi pengujian berikutnya.
Pupuk Indonesia dan Semen Indonesia Ikut Menguat
PT Pupuk Indonesia juga mencatat pertumbuhan laba yang besar. Perusahaan membukukan laba bersih Rp8,51 triliun, meningkat 253 persen dari Rp2,41 triliun pada semester I 2025. Di industri semen, PT Semen Indonesia mencatat laba Rp193,46 miliar. Angka tersebut naik 196,5 persen dibandingkan Rp65,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT Agrinas Palma Nusantara membukukan laba sekitar Rp890 miliar, tumbuh 150 persen. Jika dilihat dari nominal laba, Pupuk Indonesia memiliki angka yang jauh lebih besar dibandingkan Semen Indonesia. Namun, dari sisi pertumbuhan persentase, Timah menjadi salah satu perusahaan dengan lonjakan paling agresif.
Perbankan Tetap Menjadi Mesin Laba BUMN
PT Pegadaian membukukan laba Rp6,59 triliun, tumbuh 84,6 persen. Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat laba Rp2,40 triliun, naik 40,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bank Mandiri bahkan mencatat laba Rp30,41 triliun dengan pertumbuhan 24,3 persen.
Angka Bank Mandiri menunjukkan perbedaan antara pertumbuhan persentase dan nilai absolut. Pertumbuhannya tidak setinggi Timah atau Pupuk Indonesia, tetapi tambahan laba yang dihasilkan secara nominal jauh lebih besar. Kondisi ini memperkuat posisi perbankan sebagai salah satu mesin utama profitabilitas BUMN.
Pelindo, PalmCo, dan Pertamina Geothermal Ikut Tumbuh
Kinerja positif juga terlihat di sektor logistik, perkebunan, dan energi. PT Pelindo mencatat laba Rp2,57 triliun, meningkat 60,4 persen. Sementara itu, PTPN IV PalmCo membukukan laba Rp3,23 triliun, naik 54 persen.
Di sektor energi terbarukan, PT Pertamina Geothermal Energy mencatat laba sebesar US$79,61 juta. Nilai tersebut tumbuh 15,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini memperlihatkan bahwa sumber laba BUMN semakin tersebar di berbagai sektor. Meski demikian, perusahaan dengan bisnis berbasis komoditas tetap menghadapi risiko perubahan harga global.
Dua BUMN Berhasil Keluar dari Zona Rugi
Indikator perbaikan kinerja tidak hanya terlihat dari kenaikan laba. Perubahan dari rugi menjadi laba juga menjadi sinyal penting. PT Krakatau Steel menjadi salah satu contohnya. Perusahaan yang sebelumnya mencatat rugi sekitar Rp1,74 triliun berbalik membukukan laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar.
PT Kimia Farma juga mengalami pembalikan kinerja. Setelah mencatat rugi Rp135,61 miliar, perusahaan membukukan laba Rp54,07 miliar pada semester I 2026. Secara sederhana, kondisi tersebut disebut turnaround. Perusahaan tidak sekadar meningkatkan laba, tetapi berhasil mengubah posisi keuangannya dari negatif menjadi positif. Namun, turnaround baru dapat dianggap solid apabila perusahaan mampu mempertahankan laba dalam beberapa periode berikutnya.
Daftar Pertumbuhan Laba BUMN Semester I 2026
| BUMN | Laba Semester I 2026 | Pertumbuhan |
| PT Timah | Rp2,71 triliun | 804,7% |
| Pupuk Indonesia | Rp8,51 triliun | 253% |
| Semen Indonesia | Rp193,46 miliar | 196,5% |
| Agrinas Palma Nusantara | Rp890 miliar | 150% |
| Pegadaian | Rp6,59 triliun | 84,6% |
| Pelindo | Rp2,57 triliun | 60,4% |
| PTPN IV PalmCo | Rp3,23 triliun | 54% |
| BTN | Rp2,40 triliun | 40,8% |
| Bank Mandiri | Rp30,41 triliun | 24,3% |
| Pertamina Geothermal Energy | US$79,61 juta | 15,5% |
Catatan: angka dan persentase mengikuti data yang tercantum dalam laporan sumber.
Danantara Dihadapkan pada Ujian Efisiensi
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto menilai kinerja positif masih ditopang sejumlah BUMN besar atau blue chips. Menurut dia, sektor perbankan melalui Himbara, pertambangan, telekomunikasi, dan Pertamina masih menjadi motor utama pendapatan serta laba BUMN. Namun, kenaikan laba tersebut juga menjadi momentum untuk menguji efektivitas konsolidasi dan transformasi BUMN di bawah Danantara.
Tantangan berikutnya bukan sekadar mengejar angka laba. Pemerintah perlu memastikan pertumbuhan tersebut berasal dari perbaikan operasional, efisiensi biaya, produktivitas aset, dan tata kelola yang lebih baik. Proses streamlining atau penyederhanaan struktur BUMN menjadi salah satu faktor penting. Semakin cepat struktur perusahaan yang tidak efisien dibenahi, semakin besar peluang peningkatan produktivitas dan pengurangan biaya.
Peluang Besar, tetapi Risiko Tetap Mengintai
Pertama, semakin kuat laba BUMN, semakin besar ruang perusahaan untuk melakukan investasi dan ekspansi. Kedua, peningkatan profit dapat memperkuat kemampuan perusahaan membayar kewajiban dan memberikan kontribusi kepada negara. Ketiga, perbaikan kinerja dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan negara, terutama bagi BUMN yang sahamnya diperdagangkan di pasar modal.
Namun, ada risiko yang tidak boleh diabaikan, Kinerja perusahaan tambang dan perkebunan sangat sensitif terhadap harga komoditas. Sementara itu, sektor keuangan menghadapi risiko kualitas kredit, perubahan suku bunga, dan perlambatan ekonomi. Karena itu, pertumbuhan laba semester I 2026 sebaiknya tidak dibaca sebagai hasil akhir. Angka tersebut lebih tepat dipandang sebagai tes awal apakah transformasi BUMN benar-benar menghasilkan perbaikan fundamental.
Semester II 2026 Jadi Penentu
Kinerja enam bulan pertama memberikan gambaran positif. Timah tumbuh 804,7 persen, Pupuk Indonesia 253 persen, sementara sejumlah BUMN lain mencatat pertumbuhan dua digit hingga tiga digit. Namun, pertanyaan ekonominya kini bergeser: apakah lonjakan tersebut bisa dipertahankan? Jawabannya akan terlihat dari kinerja semester II 2026 dan laporan keuangan tahun penuh.
Jika pertumbuhan laba disertai efisiensi, peningkatan produktivitas, penguatan arus kas, serta perbaikan tata kelola, transformasi BUMN memiliki dasar yang lebih kuat. Sebaliknya, jika laba hanya terdorong faktor siklus komoditas atau keuntungan yang bersifat sementara, pertumbuhan tinggi tersebut berisiko sulit dipertahankan. Dengan demikian, capaian semester I 2026 merupakan modal awal. Tantangan sebenarnya adalah mengubah lonjakan laba menjadi kinerja yang konsisten, efisien, dan berkelanjutan.
(A/*)










