Khabaroo.com – Dr. Timothy Astandu Dengan paspor Indonesia di tangan, CEO sekaligus Co-founder Populix itu sukses menginjakkan kaki di seluruh 197 negara dan wilayah berdaulat yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Misi tersebut resmi rampung di Brasil pada Mei 2026. Dua bulan kemudian, tepatnya 16 Juli 2026, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mengukuhkan namanya sebagai Insan Indonesia yang Mengunjungi Negara Berdaulat Terbanyak.
Penghargaan di serahkan langsung oleh Jaya Suprana di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, capaian itu bukan sekadar soal angka. Di balik 197 negara yang berhasil di jelajahi, tersimpan pesan yang ingin ia sampaikan kepada masyarakat Indonesia: paspor Indonesia mampu membawa pemiliknya menjangkau seluruh dunia.
Berawal dari Perjalanan Masa Kecil, Berakhir dengan Rekor Nasional
Perjalanan Timothy ternyata di mulai jauh sebelum ia mengenal dunia bisnis. Bibit kecintaannya terhadap perjalanan di tanamkan sang ibu sejak masih balita. Saat menerima penghargaan MURI, Timothy secara khusus mengajak ibundanya naik ke atas panggung. Baginya, perempuan itulah sosok yang pertama kali mengenalkan dunia lintas budaya melalui perjalanan ke Jerman ketika usianya baru satu tahun.
“Ibu saya telah menurunkan hobi menjelajah ini. Sayangnya beliau berhenti setelah mengunjungi 87 negara karena faktor usia dan kesehatan. Saya hanya melanjutkan semangat yang beliau wariskan hingga akhirnya berhasil menuntaskan seluruh negara di dunia,” ujar Timothy. Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam seremoni penghargaan karena juga di hadiri sang istri yang turut mendampingi perjalanan panjangnya.
Membantah Anggapan Paspor Indonesia Lemah
Di tengah persepsi bahwa paspor Indonesia memiliki keterbatasan akses internasional, Timothy justru menghadirkan pengalaman yang berbeda. Menurutnya, memang terdapat tantangan administrasi ketika hendak memasuki sejumlah negara maju. Namun, hal itu tidak berarti paspor Indonesia tidak mampu membuka akses ke seluruh dunia.
Ia menilai posisi Indonesia sebagai negara Non-Blok justru memberikan keuntungan diplomatik yang sering kali luput dari perhatian publik. “Paspor Indonesia tidak lemah. Memang untuk beberapa negara maju prosesnya lebih sulit, tetapi paspor Indonesia tetap bisa digunakan mengunjungi semua negara. Tidak ada negara yang secara khusus memblokir Indonesia,” katanya.
Timothy menambahkan, posisi diplomatik Indonesia membuat warga negaranya tetap memiliki peluang memasuki sejumlah negara yang dalam kondisi tertentu lebih sulit di akses oleh pemegang paspor dari negara lain, seperti Korea Utara, Afghanistan, Rusia, hingga Suriah. Pandangan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah paspor tidak hanya di tentukan oleh jumlah negara bebas visa, tetapi juga oleh hubungan diplomatik yang di bangun antarnegara.
Di akui Komunitas Traveler Dunia Sebelum MURI
Nama Timothy lebih dulu di kenal di komunitas perjalanan internasional. Ia telah tercatat sebagai anggota sekaligus mendapat pengakuan dari tiga komunitas traveler bergengsi dunia, yakni Travelers’ Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP). Pengakuan itu menempatkannya dalam kelompok pelancong dengan pencapaian yang sangat langka di tingkat global, mengingat hanya sedikit orang di dunia yang berhasil mengunjungi seluruh negara berdaulat.
Tetap Memimpin Perusahaan di Tengah Jadwal Keliling Dunia
Di balik perjalanan lintas benua, Timothy tidak meninggalkan tanggung jawab profesionalnya sebagai CEO Populix. Ia mengaku harus menyusun strategi perjalanan secara sangat efisien. Banyak penerbangan dilakukan pada Jumat malam, memanfaatkan akhir pekan dan hari libur, lalu kembali bekerja pada Senin pagi tanpa mengganggu operasional perusahaan. Pendekatan tersebut membuat misi keliling dunia tetap berjalan tanpa mengorbankan karier maupun kepemimpinan bisnis yang di jalankannya.
Misi Belum Selesai, Kini Memburu Rekor Baru
Timothy belum berniat berhenti menjelajah. Target berikutnya adalah mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia. Saat ini ia masih memiliki enam provinsi yang belum di datangi, terutama wilayah Papua setelah pemekaran daerah. Selain itu, ia juga membidik rekor baru sebagai orang Indonesia pertama yang pernah terbang menggunakan 200 maskapai penerbangan berbeda di dunia. Hingga kini, ia masih membutuhkan sekitar delapan maskapai lagi untuk menuntaskan ambisi tersebut. Jika seluruh target itu tercapai sebelum akhir 2026, Timothy berpeluang kembali mencatatkan namanya dalam sejarah perjalanan Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa mimpi besar dapat di wujudkan melalui perencanaan, konsistensi, dan keberanian melampaui batas geografis.
(A/*)










