Khabaroo.com – Indonesia di perkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050. Proyeksi tersebut berasal dari The World in 2050 Report yang di terbitkan PricewaterhouseCoopers (PwC), menempatkan Indonesia hanya di bawah China, India, dan Amerika Serikat. Prediksi tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional.
Namun, besarnya ukuran ekonomi tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat apabila tidak di ikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Prof. Yassierli menegaskan, faktor pembeda Indonesia pada masa depan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan kemampuan menciptakan inovasi yang menghasilkan nilai tambah.
Proyeksi Ekonomi Besar Harus Di dukung SDM Berkualitas
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi negara maju tepat satu abad setelah kemerdekaan. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menilai pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut Yassierli, inovasi merupakan fondasi utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar besar, tetapi juga menjadi negara pencipta teknologi, produk, dan layanan bernilai tinggi.
“Generasi muda harus menjadi pemimpin yang mampu menghadirkan inovasi untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat,” ujarnya saat berbicara di hadapan ratusan penerima beasiswa Tanoto Foundation dalam Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau, pada 22 Juli 2026.
Angka Pertumbuhan Ekonomi Belum Cukup
Secara ekonomi, posisi empat besar dunia berarti nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di perkirakan meningkat drastis dalam beberapa dekade mendatang. Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa konsekuensi. Dunia usaha membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan digital, teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga kepemimpinan inovatif.
Tanpa peningkatan kompetensi, Indonesia berisiko mengalami kesenjangan antara besarnya ekonomi nasional dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia. Bagi masyarakat umum, kondisi ini dapat di ibaratkan seperti memiliki mesin berkapasitas besar tetapi kekurangan operator yang mampu menjalankannya secara optimal.
Posisi Indonesia Masih Tertinggal dalam Inovasi
Berdasarkan Global Innovation Index 2025, Indonesia berada di peringkat ke-55 dunia, tertinggal dari beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Vietnam. Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat riset, teknologi, kewirausahaan, hingga kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Semakin tinggi kemampuan inovasi suatu negara, semakin besar pula peluang menciptakan industri baru, lapangan kerja berkualitas, dan produk bernilai ekspor tinggi.
Mengapa Inovasi Penting bagi Ekonomi?
Yassierli menjelaskan bahwa inovasi tidak selalu berarti menemukan teknologi baru. Inovasi adalah kemampuan menghasilkan nilai tambah melalui cara kerja, layanan, model bisnis, atau solusi yang lebih efektif. Contoh sederhananya adalah hadirnya aplikasi transportasi daring. Inovasi tersebut muncul dari kebutuhan mempertemukan masyarakat yang membutuhkan transportasi dengan pengemudi yang mencari pelanggan.
Kini, perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mempercepat lahirnya inovasi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga layanan publik. Karena itu, negara-negara di dunia berlomba membangun ekosistem inovasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Growth Mindset Di nilai Menjadi Modal SDM Masa Depan
Selain kompetensi teknis, Menaker juga menekankan pentingnya membangun growth mindset. Cara berpikir ini mendorong seseorang untuk terus belajar, menerima tantangan, serta percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman.
Sebaliknya, fixed mindset membuat seseorang enggan mencoba hal baru, mudah menyerah, dan merasa terancam oleh keberhasilan orang lain. Menurut Yassierli, generasi muda perlu aktif mencari mentor, belajar dari tokoh-tokoh inspiratif, serta terus mengembangkan kemampuan agar mampu menjadi inovator, bukan sekadar pengguna teknologi.
Tantangan Besar: Mayoritas Angkatan Kerja Belum Berpendidikan Tinggi
Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan hanya sekitar 14 persen dari 155 juta angkatan kerja Indonesia yang memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Artinya, sekitar 86 persen tenaga kerja masih berpendidikan SMA, SMK, atau jenjang di bawahnya.
Komposisi tersebut menjadi tantangan besar karena kebutuhan industri masa depan semakin mengarah pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan digital, analisis data, hingga kemampuan adaptasi teknologi. Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah menjalankan program pemagangan nasional dengan kuota 150 ribu lulusan baru. Program tersebut memberikan pengalaman kerja selama satu tahun di berbagai perusahaan. Bahkan, sekitar 30 persen peserta telah memperoleh tawaran pekerjaan sebelum masa magang berakhir.
Peluang Ekonomi Semakin Besar Jika SDM Siap
Investasi pada pendidikan, pelatihan, dan inovasi diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Semakin banyak tenaga kerja yang inovatif, semakin tinggi pula produktivitas nasional dan daya saing Indonesia di pasar global. Di sisi lain, beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation membantu menyiapkan calon pemimpin masa depan. Program ini memperkuat kepemimpinan, karakter, serta kemampuan kolaborasi mahasiswa di luar kompetensi akademik.
Menurut Yassierli, Indonesia hanya bisa menjadi negara maju jika mampu bertransformasi menjadi innovation nation. Artinya, Indonesia harus mampu melahirkan solusi, teknologi, dan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Jika fondasi tersebut terbangun, proyeksi PwC tidak akan berhenti sebagai angka. Pertumbuhan ekonomi juga dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.
(A/*)










