PwC Proyeksikan Indonesia Jadi Ekonomi Terbesar Ke-4 Dunia, Inovasi SDM Jadi Kunci Indonesia Emas 2045

Inovasi SDM jadi kunci ekonomi Indonesia.

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

PwC Proyeksikan Indonesia Jadi Ekonomi Terbesar Ke-4 Dunia, Inovasi SDM Jadi Kunci Indonesia Emas 2045(Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman/AI)

PwC Proyeksikan Indonesia Jadi Ekonomi Terbesar Ke-4 Dunia, Inovasi SDM Jadi Kunci Indonesia Emas 2045(Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman/AI)

Khabaroo.com – Indonesia di perkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050. Proyeksi tersebut berasal dari The World in 2050 Report yang di terbitkan PricewaterhouseCoopers (PwC), menempatkan Indonesia hanya di bawah China, India, dan Amerika Serikat. Prediksi tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional.

Namun, besarnya ukuran ekonomi tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat apabila tidak di ikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Prof. Yassierli menegaskan, faktor pembeda Indonesia pada masa depan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan kemampuan menciptakan inovasi yang menghasilkan nilai tambah.

Proyeksi Ekonomi Besar Harus Di dukung SDM Berkualitas

Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi negara maju tepat satu abad setelah kemerdekaan. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menilai pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut Yassierli, inovasi merupakan fondasi utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar besar, tetapi juga menjadi negara pencipta teknologi, produk, dan layanan bernilai tinggi.

“Generasi muda harus menjadi pemimpin yang mampu menghadirkan inovasi untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat,” ujarnya saat berbicara di hadapan ratusan penerima beasiswa Tanoto Foundation dalam Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau, pada 22 Juli 2026.

Angka Pertumbuhan Ekonomi Belum Cukup

Secara ekonomi, posisi empat besar dunia berarti nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di perkirakan meningkat drastis dalam beberapa dekade mendatang. Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa konsekuensi. Dunia usaha membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan digital, teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga kepemimpinan inovatif.

Tanpa peningkatan kompetensi, Indonesia berisiko mengalami kesenjangan antara besarnya ekonomi nasional dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia. Bagi masyarakat umum, kondisi ini dapat di ibaratkan seperti memiliki mesin berkapasitas besar tetapi kekurangan operator yang mampu menjalankannya secara optimal.

Baca Juga :  Jadwal Mobile Legends GOTF 2026 Lengkap, Onic dan Bigetron Berburu Tiket Playoff di Astana

Posisi Indonesia Masih Tertinggal dalam Inovasi

Berdasarkan Global Innovation Index 2025, Indonesia berada di peringkat ke-55 dunia, tertinggal dari beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Vietnam. Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat riset, teknologi, kewirausahaan, hingga kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Semakin tinggi kemampuan inovasi suatu negara, semakin besar pula peluang menciptakan industri baru, lapangan kerja berkualitas, dan produk bernilai ekspor tinggi.

Mengapa Inovasi Penting bagi Ekonomi?

Yassierli menjelaskan bahwa inovasi tidak selalu berarti menemukan teknologi baru. Inovasi adalah kemampuan menghasilkan nilai tambah melalui cara kerja, layanan, model bisnis, atau solusi yang lebih efektif. Contoh sederhananya adalah hadirnya aplikasi transportasi daring. Inovasi tersebut muncul dari kebutuhan mempertemukan masyarakat yang membutuhkan transportasi dengan pengemudi yang mencari pelanggan.

Kini, perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mempercepat lahirnya inovasi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga layanan publik. Karena itu, negara-negara di dunia berlomba membangun ekosistem inovasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.

Growth Mindset Di nilai Menjadi Modal SDM Masa Depan

Selain kompetensi teknis, Menaker juga menekankan pentingnya membangun growth mindset. Cara berpikir ini mendorong seseorang untuk terus belajar, menerima tantangan, serta percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman.

Sebaliknya, fixed mindset membuat seseorang enggan mencoba hal baru, mudah menyerah, dan merasa terancam oleh keberhasilan orang lain. Menurut Yassierli, generasi muda perlu aktif mencari mentor, belajar dari tokoh-tokoh inspiratif, serta terus mengembangkan kemampuan agar mampu menjadi inovator, bukan sekadar pengguna teknologi.

Baca Juga :  Momen Bersejarah! 150 Periset BRIN Pamerkan Inovasi Strategis di Istana, Prabowo: Sains Kunci Indonesia Emas 2045

Tantangan Besar: Mayoritas Angkatan Kerja Belum Berpendidikan Tinggi

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan hanya sekitar 14 persen dari 155 juta angkatan kerja Indonesia yang memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Artinya, sekitar 86 persen tenaga kerja masih berpendidikan SMA, SMK, atau jenjang di bawahnya.

Komposisi tersebut menjadi tantangan besar karena kebutuhan industri masa depan semakin mengarah pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan digital, analisis data, hingga kemampuan adaptasi teknologi. Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah menjalankan program pemagangan nasional dengan kuota 150 ribu lulusan baru. Program tersebut memberikan pengalaman kerja selama satu tahun di berbagai perusahaan. Bahkan, sekitar 30 persen peserta telah memperoleh tawaran pekerjaan sebelum masa magang berakhir.

Peluang Ekonomi Semakin Besar Jika SDM Siap

Investasi pada pendidikan, pelatihan, dan inovasi diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Semakin banyak tenaga kerja yang inovatif, semakin tinggi pula produktivitas nasional dan daya saing Indonesia di pasar global. Di sisi lain, beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation membantu menyiapkan calon pemimpin masa depan. Program ini memperkuat kepemimpinan, karakter, serta kemampuan kolaborasi mahasiswa di luar kompetensi akademik.

Menurut Yassierli, Indonesia hanya bisa menjadi negara maju jika mampu bertransformasi menjadi innovation nation. Artinya, Indonesia harus mampu melahirkan solusi, teknologi, dan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Jika fondasi tersebut terbangun, proyeksi PwC tidak akan berhenti sebagai angka. Pertumbuhan ekonomi juga dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta

Berita Terbaru