Omzet Melejit, Narita Shibori Justru Perluas Pemberdayaan Disabilitas

Dari usaha rumahan, Narita Shibori tumbuh menjadi UMKM inklusif.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Omzet Melejit, Narita Shibori Justru Perluas Pemberdayaan Disabilitas
(Foto: Dok. Pertamina
/kumparan/AI)

Omzet Melejit, Narita Shibori Justru Perluas Pemberdayaan Disabilitas (Foto: Dok. Pertamina /kumparan/AI)

Khabaroo.com – Narita Shibori Dari usaha rumahan di Bandung, Anarita membangun bisnis fesyen yang perlahan bergerak keluar dari lingkaran pasar lokal. Perjalanannya tidak langsung mulus. Modal terbatas, kapasitas produksi, promosi, dan akses pasar menjadi persoalan yang harus di hadapi. Produk bisa di buat, tetapi membawa usaha naik ke tingkat berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas.

Titik perubahan datang pada 2019,  Narita Shibori bergabung sebagai UMKM binaan PT Pertamina (Persero). Sejak saat itu, pengembangan usaha tidak lagi hanya bertumpu pada kemampuan internal. Narita Shibori memperoleh dukungan pembiayaan, pelatihan melalui UMK Academy, serta kesempatan memperkenalkan produk dalam berbagai pameran. “Kami mendapat modal kerja untuk produksi, bantuan pemasaran skala nasional hingga internasional, serta pelatihan melalui Pertamina Academy,” ujar Anarita.

Pasar Meluas, Produksi Ikut Bertumbuh

Omzet Narita Shibori meningkat hampir tiga kali lipat. Jangkauan pasarnya pun melebar. Produk Narita Shibori tampil dalam sejumlah pameran nasional, antara lain Inacraft, SMEXPO, Kriya Nusa, dan Tunjukkan Indonesiamu.

Langkah berikutnya membawa mereka keluar negeri. Pada 2024, Narita Shibori mendapat kesempatan mengikuti DMI Utrecht di Belanda. Kesempatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk sekaligus membuka akses ke pasar internasional.

Bagi UMKM, ekspansi semacam ini bukan perkara sederhana. Ada tuntutan menjaga kualitas, memenuhi kebutuhan produksi, membangun jejaring, hingga memastikan produk memiliki daya saing ketika berhadapan dengan pasar yang lebih luas. Namun, Anarita tidak ingin pertumbuhan Narita Shibori berhenti pada angka penjualan.

Ketika Bisnis Membuka Pintu untuk Kelompok Rentan

Proses produksi Selama tiga tahun terakhir, Narita Shibori berkolaborasi dengan Rumah Hasanah dengan melibatkan 12 penyandang disabilitas. Karya mereka kemudian di padukan ke dalam sejumlah produk fesyen dan tote bag. Kini, kolaborasi tersebut mulai di arahkan ke produk home decor. Sekitar 10 persen produksi Narita Shibori saat ini berasal dari kolaborasi tersebut. Angka itu mungkin terlihat kecil di bandingkan keseluruhan produksi. Namun, bagi Anarita, nilainya tidak semata-mata di hitung dari persentase.

Baca Juga :  Google Ternyata Lahir dari Mimpi Dua Mahasiswa, Ini Kisahnya pada 4 September 1998

“Kami sudah tiga tahun berkolaborasi dengan Rumah Hasanah. Karya mereka kami padupadankan menjadi produk fashion, tote bag, dan ke depannya home decor. Karena karya mereka memang layak di hargai,” katanya. Di titik ini, model bisnis Narita Shibori bergerak lebih jauh dari sekadar transaksi antara produsen dan konsumen. Ada ruang yang sengaja di buka agar penyandang disabilitas dapat menghasilkan karya, memperoleh penghasilan, dan ikut berada dalam rantai produksi. pemberdayaan tersebut bukan sekadar aktivitas sosial. Ia melihatnya sebagai bagian dari ekosistem usaha yang memungkinkan lebih banyak orang tumbuh bersama.

Tantangan UMKM Belum Selesai

UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini berkontribusi sekitar 60,5 persen terhadap PDB dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih sekitar 15,7 persen. Kesenjangan itu menunjukkan bahwa persoalan UMKM bukan hanya soal kemampuan membuat produk. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut bisa naik kelas, memiliki kapasitas produksi yang memadai, menjaga kualitas, mendapatkan pembiayaan, serta menembus pasar internasional.

Karena itu, pendampingan menjadi faktor penting. Tanpa akses terhadap modal, pelatihan, promosi, dan jejaring bisnis, potensi produk lokal bisa berhenti di pasar yang terbatas. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan pembinaan UMKM di arahkan untuk memperkuat kapasitas bisnis sekaligus memperluas dampak ekonomi.

“Pertamina meyakini UMKM merupakan penggerak utama ekonomi nasional. Karena itu, pembinaan yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas bisnis, tetapi juga membuka akses terhadap pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha agar UMKM mampu tumbuh lebih kompetitif sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Baron.

Baca Juga :  Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg Resmi Turun, Ada Diskon Tambahan

Dari Pertumbuhan Bisnis ke Dampak Sosial

Menurut Baron, perjalanan Narita Shibori memperlihatkan bahwa keberhasilan UMKM tidak berhenti pada pertumbuhan omzet. Ketika bisnis berkembang, dampaknya dapat merambat ke lingkungan sekitar. Peluang kerja terbuka. Kelompok rentan memperoleh ruang untuk berkarya. Produk lokal pun memiliki kesempatan lebih besar untuk masuk ke pasar global.

Di sinilah pembinaan UMKM menemukan makna yang lebih luas. Pertumbuhan bisnis tidak lagi hanya di ukur dari seberapa besar penjualan meningkat. Ada pertanyaan lain yang ikut menentukan: siapa yang ikut tumbuh ketika sebuah usaha berkembang? Narita Shibori memilih menjawabnya melalui kolaborasi dengan penyandang disabilitas.

Langkah tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah melalui Asta Cita, terutama dalam memperkuat kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan memperluas kesempatan ekonomi yang inklusif. Pada saat yang sama, pendekatan tersebut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 10 mengenai berkurangnya kesenjangan.

Dari sebuah usaha rumahan di Bandung, Narita Shibori kini membawa cerita yang lebih besar. Bukan hanya tentang kain shibori yang berhasil menembus pameran nasional dan internasional, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bisnis dapat menciptakan ruang ekonomi bagi mereka yang selama ini kerap berada di pinggir. Pertumbuhan akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi berarti ketika semakin banyak orang punya kesempatan untuk ikut tumbuh.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta

Berita Terbaru