Khabaroo.com – Ramen yang kini identik dengan Jepang ternyata memiliki akar sejarah dari Tiongkok. Melansir Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, ramen berkembang di Jepang setelah masyarakat mengadopsi teknik dan tradisi mi dari Tiongkok. Seiring waktu, orang Jepang mengubah bahan, rasa, hingga cara penyajiannya, Dari proses itulah ramen perlahan memperoleh identitasnya sendiri.
Jejak Ramen Di mulai di Tokyo
Perkembangan ramen di Jepang mulai terlihat pada awal abad ke-20. Pada 1910, sebuah restoran Tiongkok di kawasan Asakusa, Tokyo, mulai menyajikan hidangan mi yang kemudian di kenal sebagai ramen. Saat itu, makanan tersebut disebut shina soba, yang secara sederhana merujuk pada mi Tiongkok.
Melansir Universitas Komputer Indonesia, popularitasnya kemudian meningkat karena ramen menawarkan makanan yang relatif terjangkau dan mudah di nikmati. Kondisi tersebut membuat ramen tidak berhenti sebagai hidangan restoran. Perlahan, makanan ini masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.
Kansui Jadi Pembeda Utama
Salah satu kuncinya terletak pada kansui, larutan bersifat basa yang digunakan dalam pembuatan mi. Bahan ini memberikan tekstur kenyal sekaligus karakter khas yang membedakan mi ramen dari sejumlah jenis mi Jepang lainnya. Karakter mi kemudian berpadu dengan kuah. Bahan dasarnya bisa berasal dari ayam, ikan, seafood, hingga tulang babi, Hasil akhirnya sangat beragam. Ada kuah yang ringan, gurih, pekat, hingga kaya rasa.
Setiap Daerah Punya Identitas Ramen
Ketika ramen menyebar ke berbagai wilayah Jepang, resepnya ikut berubah. Masyarakat setempat menyesuaikan ramen dengan bahan dan selera lokal. Dari sinilah muncul beragam gaya ramen yang memiliki karakter masing-masing.
Sapporo, misalnya, terkenal dengan ramen berbasis miso. Sementara itu, Fukuoka di kenal melalui ramen Hakata yang menggunakan kuah tonkotsu dengan karakter lebih pekat. Perbedaan tersebut membuat ramen tidak memiliki satu standar rasa. Setiap daerah justru memiliki cerita kulinernya sendiri.
Dari Makanan Rakyat Menjadi Ikon Jepang
Perjalanan ramen menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat berubah ketika bertemu budaya baru. Awalnya mendapat pengaruh dari Tiongkok, ramen kemudian mengalami proses adaptasi panjang di Jepang. Bahan, teknik memasak, rasa, hingga tradisi penyajiannya terus berkembang.
Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar bertambahnya pilihan makanan, Ramen menjadi bagian dari budaya kuliner Jepang. Hidangan ini juga berkembang menjadi simbol yang mudah di kenali ketika orang membicarakan makanan Jepang di berbagai belahan dunia.
Revolusi Ramen Instan
Pada 1958, Momofuku Ando menciptakan mi instan melalui Nissin Foods. Inovasi tersebut mengubah cara masyarakat menikmati hidangan berbasis mi karena proses memasaknya menjadi jauh lebih praktis. Di restoran, ramen berkembang sebagai hidangan dengan teknik, kaldu, dan topping yang kompleks. Sementara dalam bentuk instan, konsepnya berubah menjadi makanan praktis yang dapat di siapkan dalam waktu singkat.
Mengapa Ramen Bisa Bertahan?
Resepnya dapat mengikuti bahan lokal. Kuah bisa di buat berbeda. Topping dapat di sesuaikan. Bahkan bentuk penyajiannya terus mengalami inovasi. Namun, identitas dasarnya tetap bertahan: mi gandum, kuah berkarakter, dan berbagai pelengkap dalam satu mangkuk. Itulah yang membuat ramen mampu bergerak dari pengaruh kuliner Tiongkok menuju identitas Jepang, lalu menyeberang ke pasar internasional. Ramen pada akhirnya bukan hanya makanan. Ia menjadi contoh bagaimana tradisi kuliner dapat berubah tanpa kehilangan akar sejarahnya.
(A/*)










