Khabaroo.com – Gempa bumi magnitude 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.30 WITA. Getarannya membuat warga berhamburan keluar rumah, sementara sebagian memilih bertahan di perbukitan karena khawatir tsunami dan gempa susulan. Bagi warga Flores, gempa sebenarnya bukan pengalaman baru. Pulau ini berada di kawasan Ring of Fire yang membuat aktivitas seismik cukup sering terjadi. Namun, gempa kali ini terasa berbeda. “Rasanya macam kiamat saja,” kata Sevrin Waja (35), warga Kabupaten Nagekeo, NTT, saat dihubungi dari Jakarta, Ahad (16/8/2026).
Atap Bergoyang, Warga Baru Sadar Gempa
Sevrin masih mengingat jelas pagi itu. Ia baru bangun tidur dan hendak membuat kopi di dapur. Tiba-tiba atap rumah bergoyang. Awalnya, Sevrin mengira ada ayam yang bergerak di atas atap. Dugaan itu berubah ketika guncangan semakin kuat. “Saat itu baru saja bangun tidur, langsung berniat untuk bikin kopi di dapur, tiba-tiba atap rumah bergoyang. Awalnya saya mengira itu ayam di atap, tetapi lama kelamaan guncangan semakin keras, baru sadar kalau gempa,” ujarnya.
Dalam hitungan detik, situasi berubah menjadi kepanikan. Guncangan terasa bergerak ke kiri dan kanan. Sevrin bahkan menggambarkan sensasinya seperti tubuh diangkat, kemudian dibanting kembali. Pengalaman itu membuat keluarganya segera mencari tempat aman. Dari rumah-rumah di sekitar mereka, suara warga meminta pertolongan terdengar bersahutan. Kepanikan menyebar ketika masyarakat berusaha keluar dari bangunan yang berpotensi mengalami kerusakan.
Peringatan Tsunami Mengubah Arah Evakuasi
Ancaman tidak berhenti ketika guncangan utama berakhir. Beberapa saat kemudian, informasi mengenai peringatan dini tsunami akibat gempa tektonik magnitude 7,7 beredar. BPBD setempat mengimbau masyarakat menjauh dari kawasan yang berisiko dan mengungsi ke tempat lebih tinggi. Sevrin bersama keluarganya pun bergerak menuju rumah saudaranya di perbukitan. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumah.
Bukan tanpa alasan. Mereka memilih lokasi tersebut karena berada di ketinggian dan dinilai lebih aman dari kemungkinan tsunami.Namun, rasa aman itu belum sepenuhnya datang.
Di rumah saudaranya, warga lain juga berkumpul. Sebagian bahkan tidur di halaman dengan alas terpal dan tenda darurat. Mereka tidak berani kembali tidur di dalam rumah. Gempa susulan masih dirasakan berkali-kali.“Sekalipun di ketinggian kami tidak berani tidur dalam rumah, takut gempa susulan. Soalnya pasca gempa besar, setiap sepersekian menit sekali ada guncangan,” tutur Sevrin.
Rumah Retak, Dinding dan Atap Warga Roboh
Gempa meninggalkan kerusakan nyata di permukiman warga Nagekeo. Rumah Sevrin mengalami retakan pada bagian lantai. Kondisi sejumlah rumah tetangga lebih parah. Dinding dan atap dilaporkan roboh. Bagi warga yang rumahnya rusak, persoalannya bukan sekadar kerugian material. Mereka kehilangan tempat tinggal yang aman.
“Untuk kerugian, kalau dihitung, seharga rumah,” kata Sevrin. Meski demikian, mayoritas warga di wilayahnya masih dapat mempertahankan mata pencaharian. Banyak penduduk bekerja sebagai petani dan sejauh penuturannya, kerusakan pada sawah maupun kebun belum menimbulkan kerugian besar. Masalah paling mendesak justru tempat tinggal dan kebutuhan dasar selama masa pengungsian.
Bantuan Ada, tetapi Belum Menjawab Kebutuhan Jangka Panjang
Warga sejauh ini mengandalkan pengungsian secara mandiri. Tenda darurat dibangun di perbukitan dan dataran tinggi. Sebagian keluarga membawa kompor sendiri untuk memasak makanan. Bantuan makanan telah datang dari BPBD Kabupaten Nagekeo, donatur, komunitas peduli bencana, hingga sejumlah organisasi politik.
Tetapi Sevrin melihat persoalan lain mulai muncul: daya tahan bantuan.“Untuk jangka waktu satu sampai dua hari mencukupi, tetapi untuk jangka waktu panjang kayaknya tidak mencukupi,” ujarnya. Kebutuhan warga kini mulai bergeser dari sekadar makanan.
Selimut, kasur, tenda darurat, serta obat-obatan menjadi kebutuhan yang dinilai mendesak. Kondisi tersebut semakin penting karena terdapat anak-anak di lokasi pengungsian yang membutuhkan obat. Tanpa tambahan bantuan, kemampuan warga bertahan di pengungsian berisiko semakin berat apabila mereka belum dapat kembali ke rumah.
53 Orang Meninggal, 241 Rumah Rusak
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 53 orang meninggal dunia akibat gempa magnitude 7,7 yang mengguncang Flores. Korban tersebar di enam kabupaten. Kabupaten Manggarai mencatat korban terbanyak dengan 25 orang. Berikutnya Manggarai Timur sebanyak 20 orang, Sikka empat orang, Ende dua orang, serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing satu orang.
Kerusakan rumah juga terus didata. Hingga Ahad (16/8/2026), BNPB mencatat 241 rumah mengalami kerusakan. Rinciannya, 154 rumah rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah rusak ringan. Kabupaten Manggarai Barat menjadi wilayah dengan kerusakan rumah terbanyak, yakni 115 unit. Dari jumlah tersebut, 69 rumah rusak berat, 30 rusak sedang, dan 16 rusak ringan.
Di Manggarai Timur, sebanyak 74 rumah rusak. Sebanyak 54 rumah masuk kategori rusak berat, sembilan rusak sedang, dan 11 rusak ringan. Kabupaten Manggarai mencatat 47 rumah rusak, terdiri atas 29 rusak berat, sembilan rusak sedang, dan sembilan rusak ringan. Sementara itu, Nagekeo mencatat lima rumah rusak. Dua rumah mengalami rusak berat, satu rusak sedang, dan dua lainnya rusak ringan.
Pendataan Penyintas Jadi Pekerjaan Mendesak
Di tengah situasi darurat, kebutuhan warga tidak hanya berupa bantuan logistik. Pendataan penyintas menjadi pekerjaan penting berikutnya. Data yang akurat dibutuhkan untuk mengetahui siapa yang kehilangan tempat tinggal, siapa yang membutuhkan obat, berapa jumlah warga yang bertahan di pengungsian, serta bantuan apa yang paling mendesak di setiap lokasi.
Sevrin meminta pemerintah memperkuat pendataan sekaligus memperbarui informasi kondisi bencana secara berkala. “Segera lakukan pendataan dengan baik terhadap penyintas dan memberikan bantuan darurat kepada masyarakat terdampak,” katanya. Permintaan itu menggambarkan persoalan yang lebih besar setelah gempa berlalu: warga bukan hanya membutuhkan bantuan untuk melewati satu atau dua hari, tetapi juga kepastian mengenai tempat tinggal, perlindungan, dan pemulihan kehidupan mereka. warga Flores, guncangan mungkin telah mereda. Namun, bagi mereka yang rumahnya retak atau roboh, bencana belum benar-benar selesai.
(A/*)










