Produktivitas Padi Dairi Melejit 100 Persen, Capai 12,3 Ton per Hektare

Produktivitas padi Dairi melonjak dari 6 ton menjadi 12,3 ton per hektare.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Produktivitas Padi Dairi Melejit 100 Persen, Capai 12,3 Ton per Hektare
(Foto: Dok.PT. Pupuk Indonesia/Mistar
/AI)

Produktivitas Padi Dairi Melejit 100 Persen, Capai 12,3 Ton per Hektare (Foto: Dok.PT. Pupuk Indonesia/Mistar /AI)

Khabaroo.com – Produktivitas padi di Desa Lumban Toruan, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, mencatat lonjakan signifikan. Lahan percontohan atau demplot yang di kembangkan PT Pupuk Indonesia (Persero) menghasilkan 12,3 ton gabah per hektare, Angka tersebut hampir dua kali lipat di bandingkan produktivitas sebelumnya yang berada di kisaran 6 ton per hektare.

Dari sisi ekonomi pertanian, kenaikan ini penting. Dengan luas lahan yang sama, petani berpotensi menghasilkan gabah lebih banyak tanpa harus memperluas area persawahan. Artinya, produktivitas menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga pasokan pangan.

Demplot Jadi Uji Coba Budidaya

Peningkatan hasil tersebut berasal dari lahan demplot Pupuk Indonesia yang di kelola bersama Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Dairi. Assistant Officer Pendukung Penjualan Regional 1 Pupuk Indonesia, Hendra Sagita, mengatakan program ini juga di arahkan untuk membangun kembali kepercayaan petani. Sebelumnya, penurunan hasil panen membuat sebagian petani mengalami tekanan. Karena itu, keberhasilan demplot di harapkan menjadi bukti bahwa produktivitas sawah masih dapat di dorong melalui pengelolaan yang lebih tepat.

Hasil Panen Di ukur Secara Transparan

Capaian 12,3 ton per hektare tidak hanya berdasarkan perkiraan. Pupuk Indonesia bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan petani melakukan pengukuran menggunakan metode ubinan, Metode tersebut dilakukan dengan mengambil sampel area tanaman untuk memperkirakan hasil panen dalam satu hektare.

Pengukuran bersama membuat data hasil panen dapat di ketahui secara lebih objektif oleh pihak yang terlibat. petani, data seperti ini penting. Mereka bisa melihat secara langsung apakah perubahan metode budidaya benar-benar memberikan dampak terhadap hasil produksi.

Baca Juga :  Omzet UMKM Binaan Pertamina Tembus Rp8,57 Miliar, Akses Pasar Jadi Kunci

Pemupukan Berimbang Jadi Salah Satu Faktor

Peningkatan produksi tidak berdiri pada satu faktor. Pupuk Indonesia menyebut keberhasilan demplot di pengaruhi oleh pengolahan lahan yang tepat, pemupukan terukur dan berimbang, serta pendampingan selama musim tanam. Sederhananya, tanaman tidak cukup hanya di beri pupuk dalam jumlah banyak. Jenis dan dosisnya harus di sesuaikan dengan kebutuhan tanaman serta kondisi tanah. Pendekatan tersebut berpotensi membuat penggunaan pupuk menjadi lebih efisien. Petani juga dapat mengurangi risiko pemborosan biaya produksi akibat pemberian input yang tidak sesuai kebutuhan.

Kondisi Tanah Ikut Menentukan

Kepala Bidang DKPP Kabupaten Dairi, Sukaedah Angkat, menilai capaian demplot menunjukkan bahwa pengelolaan lahan dan pemupukan yang tepat dapat meningkatkan hasil secara signifikan. Namun, ia menekankan bahwa kondisi tanah perlu di perhatikan sebelum musim tanam di mulai. Petani di dorong menggunakan pupuk organik dan kapur pertanian untuk membantu memperbaiki kondisi tanah. Salah satu targetnya adalah memperbaiki pH tanah. Jika kondisi tanah lebih sesuai, tanaman di harapkan mampu menyerap unsur hara secara lebih optimal.

Dampak Ekonomi: Produksi Naik, Lahan Tidak Harus Bertambah

Kenaikan produktivitas dari 6 ton menjadi 12,3 ton per hektare menunjukkan adanya ruang besar untuk meningkatkan produksi melalui efisiensi budidaya. Sebagai gambaran sederhana, jika metode serupa mampu di terapkan pada 100 hektare lahan, potensi produksi secara teoritis meningkat dari sekitar 600 ton menjadi 1.230 ton. Itu berarti ada tambahan sekitar 630 ton dari luas lahan yang sama.

Baca Juga :  Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos

Namun, angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan hasil demplot dan belum berarti seluruh lahan akan menghasilkan produktivitas yang sama. Faktor seperti kualitas tanah, varietas benih, cuaca, serangan hama, ketersediaan air, biaya input, serta keterampilan petani tetap menentukan hasil akhir.

Peluang Dairi Menjadi Lumbung Pangan

Keberhasilan demplot membuka peluang bagi Kabupaten Dairi untuk meningkatkan kembali produksi berasnya, Jika produktivitas tinggi dapat di replikasi secara konsisten, daerah tidak hanya memiliki peluang memperbesar pasokan pangan, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan lahan pertanian.

Dalam jangka panjang, peningkatan produktivitas juga dapat memperkuat posisi petani. Dengan produksi lebih tinggi, peluang memperoleh pendapatan yang lebih baik terbuka, terutama ketika harga gabah berada pada level yang menguntungkan. Meski demikian, produktivitas tinggi harus di ikuti pengendalian biaya. Jika kenaikan produksi di barengi lonjakan biaya pupuk, benih, tenaga kerja, atau input lainnya, keuntungan petani belum tentu meningkat secara proporsional.

Tantangan Berikutnya Bukan Sekadar Panen Tinggi

Hasil 12,3 ton per hektare merupakan capaian penting. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana hasil tersebut dapat di terapkan secara luas dan berkelanjutan. Petani membutuhkan pendampingan, akses input yang tepat, pengelolaan tanah, kepastian air, serta akses pasar. Tanpa ekosistem tersebut, keberhasilan satu demplot berisiko berhenti sebagai angka percontohan.

Langkah berikutnya adalah menguji apakah produktivitas tinggi dapat di pertahankan pada musim tanam berbeda dan di lahan yang lebih luas. Jika berhasil, Dairi memiliki peluang memperkuat kembali perannya sebagai salah satu wilayah penyangga pangan di Sumatera Utara.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta

Berita Terbaru