Dari Baca Map hingga Baca Pasar, Ini Kemiripan Strategi Gamer dan Investor

Esports jadi pintu masuk literasi keuangan lewat strategi membaca situasi yang mirip dengan cara investor.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dari Baca Map hingga Baca Pasar, Ini Kemiripan Strategi Gamer dan Investor(Foto: dok. ist/suara/AI)

Dari Baca Map hingga Baca Pasar, Ini Kemiripan Strategi Gamer dan Investor(Foto: dok. ist/suara/AI)

Khabaroo.com – investasi dan pengelolaan keuangan, Pendekatan ini di perkenalkan dalam Esports Kapolri Cup 2026 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada 8-9 Agustus 2026. Selain kompetisi Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), ajang tersebut menghadirkan edukasi finansial melalui program Smart Play, Smart Invest with AI IPOT.

Strategi Bermain dan Investasi Punya Pola yang Mirip

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menjelaskan, pemain esports dan investor sama-sama di tuntut membaca situasi sebelum mengambil keputusan. Dalam MLBB, pemain harus memahami kondisi peta, memperkirakan pergerakan lawan, memilih perlengkapan yang tepat, serta menentukan kapan harus menyerang atau bertahan. Investor menghadapi prinsip yang serupa. Sebelum membeli saham atau instrumen investasi lain, investor perlu melihat kondisi pasar, memahami karakter aset, menghitung potensi keuntungan, sekaligus mengukur risiko kerugian.

Artinya, keputusan finansial tidak seharusnya di buat secara spontan, Brigita menyebut filosofi permainan dapat di terapkan dalam strategi membangun kekayaan melalui investasi. “Filosofi permainan ini ternyata 100 persen relevan dengan strategi membangun kekayaan di dunia nyata melalui investasi.” Namun, ada satu perbedaan penting. Dalam gim, kekalahan bisa di ulang pada pertandingan berikutnya. Dalam investasi, kesalahan mengelola uang dapat berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Jangan Jadikan FOMO sebagai Strategi Investasi

Investor pemula adalah fear of missing out (FOMO), Sederhananya, FOMO adalah kondisi ketika seseorang membeli aset karena takut tertinggal dari tren. Harga aset naik, banyak orang membicarakannya, lalu keputusan membeli dilakukan tanpa memahami alasan dan risikonya. Pola seperti ini berbahaya karena harga aset tidak selalu bergerak naik.

Investor juga perlu menghindari kebiasaan menempatkan seluruh dana pada satu aset. Strategi tersebut membuat risiko terkonsentrasi. Jika aset mengalami penurunan tajam, nilai portofolio ikut terdampak besar,  memahami di versifikasi menjadi penting. Di versifikasi berarti menyebarkan dana ke beberapa aset sesuai profil risiko. Tujuannya bukan menghilangkan risiko sepenuhnya, melainkan mengurangi dampak jika salah satu aset mengalami penurunan.

Baca Juga :  Pasar Kripto Indonesia Tumbuh Pesat, 22,69 Juta Pengguna Jadi Buktinya

Dana Darurat Bukan Modal Spekulasi

Ada prinsip sederhana yang perlu di pahami gamer maupun investor pemula: uang untuk kebutuhan penting tidak boleh diperlakukan seperti uang spekulasi. Dana darurat, uang sekolah, biaya kebutuhan sehari-hari, atau dana yang berasal dari pinjaman memiliki fungsi berbeda dengan modal investasi. Jika dana tersebut digunakan untuk mengejar keuntungan lalu investasi mengalami kerugian, masalahnya tidak berhenti pada penurunan nilai aset. Kondisi keuangan sehari-hari juga dapat terganggu. Karena itu, sebelum berbicara mengenai keuntungan investasi, investor perlu memastikan kondisi keuangannya cukup sehat. Investasi seharusnya menjadi bagian dari perencanaan keuangan, bukan jalan pintas untuk mendapatkan uang dengan cepat.

AI Membuat Informasi Investasi Semakin Mudah Di akses

Teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) bahkan mulai digunakan untuk membantu menyederhanakan berbagai informasi investasi, mulai dari laporan keuangan, data teknikal hingga berita pasar, Bagi investor pemula, kondisi ini membuka peluang besar. Informasi yang sebelumnya terasa rumit dapat di sajikan dengan cara yang lebih mudah dipahami. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis membuat keputusan investasi menjadi aman.

AI tetap merupakan alat bantu. Investor tetap perlu memeriksa sumber informasi, memahami konteks data, dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan. Dengan kata lain, teknologi dapat mempercepat proses analisis, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab investor.

Esports Bisa Menjadi Pintu Masuk Literasi Keuangan

Presiden Direktur dan CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The menilai ekosistem digital dan esports tidak hanya membutuhkan kemampuan kompetitif, tetapi juga ketahanan finansial. “Ruang digital dan dunia esports tidak hanya membutuhkan pengasahan kecakapan kompetitif, tetapi juga fondasi ketahanan finansial yang kokoh.”

Baca Juga :  APBN Tertekan, Pemerintah Perketat Penerima Subsidi Berdasarkan Desil

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya peluang baru dalam pendidikan finansial. Generasi muda yang mungkin belum tertarik mengikuti seminar investasi formal dapat lebih mudah menerima materi ketika di sampaikan melalui ekosistem yang sudah mereka kenal. Dalam Esports Kapolri Cup 2026, edukasi tersebut di kemas melalui sesi Smart Play, Smart Invest with AI IPOT, kuis, aktivitas interaktif, hingga konsultasi finansial. Pengunjung juga dapat berdiskusi dengan pakar investasi melalui Smart Money Circle. Pendekatan ini memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Semakin dini seseorang memahami pengelolaan uang, semakin besar peluang terbentuknya kebiasaan finansial yang sehat dalam jangka panjang.

Peluang Besar, tetapi Risiko Tetap Ada

Membawa investasi ke lingkungan esports bukan sekadar strategi komunikasi. Ada peluang untuk memperluas jangkauan literasi keuangan di kalangan pengguna digital. Kemudahan membuka akses ke informasi dan instrumen investasi dapat membuat seseorang tergoda melakukan transaksi terlalu cepat. Apalagi ketika keputusan tersebut di pengaruhi tren media sosial, rekomendasi komunitas, atau keinginan mengejar keuntungan dalam waktu singkat.

Karena itu, literasi keuangan tidak cukup hanya mengajarkan cara membeli aset. Yang lebih penting adalah memahami kapan harus membeli, berapa dana yang digunakan, seberapa besar risiko yang sanggup di tanggung, dan kapan harus menahan diri. Seperti dalam pertandingan esports, kemenangan tidak hanya di tentukan oleh keberanian menyerang. Pemain juga harus tahu kapan bertahan, Dalam investasi, prinsipnya serupa. Keuntungan memang menjadi tujuan, tetapi kemampuan mengendalikan risiko adalah bagian yang menentukan apakah strategi tersebut bisa bertahan dalam jangka panjang.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta

Berita Terbaru