Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950?

Selisih Rp850 per liter, harga ditahan demi daya beli.

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 5 September 2026 - 12:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950?
(Foto: Pertamina
/viva/AI)

Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950? (Foto: Pertamina /viva/AI)

Khabaroo.com – Harga Pertamax di Jakarta masih bertahan di level Rp15.950 per liter pada awal September 2026. Angka tersebut berada di bawah estimasi harga keekonomian yang di perkirakan mencapai Rp16.700-Rp16.800 per liter. Artinya, terdapat selisih sekitar Rp750-Rp850 per liter antara harga yang dibayar konsumen dan nilai keekonomian BBM tersebut.

konsumen, selisih itu berarti harga Pertamax belum sepenuhnya mengikuti biaya yang terbentuk dari harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, distribusi, penyimpanan, margin, serta pajak. Namun dari sisi korporasi, selisih tersebut tetap memiliki konsekuensi terhadap struktur keuangan PT Pertamina (Persero).

Harga Pertamax Belum Mencerminkan Biaya Ekonomi

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa harga keekonomian BBM tidak hanya di tentukan oleh harga minyak dunia. Ada beberapa komponen yang ikut membentuknya, mulai dari harga minyak mentah, kurs rupiah, biaya logistik, penyimpanan, margin hingga pajak. Dengan perhitungan tersebut, harga Pertamax secara ekonomi diperkirakan berada di kisaran Rp16.700-Rp16.800 per liter.

Sementara konsumen masih membayar Rp15.950 per liter. Yusuf menilai keputusan mempertahankan harga tersebut dapat di pahami sebagai upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Sederhananya, pemerintah memilih agar kenaikan biaya energi tidak langsung seluruhnya di teruskan kepada konsumen.

Selisih Rp850 per Liter Bukan Beban yang Hilang

selisih harga bukan berarti biaya tersebut menghilang. Jika harga jual berada di bawah harga keekonomian, tekanan tersebut tetap harus tercermin dalam struktur keuangan Pertamina. Dalam jangka pendek, kondisi ini masih mungkin di kelola. Terlebih, sejumlah BBM nonsubsidi lainnya telah mengalami penyesuaian harga.

Masalahnya muncul jika harga Pertamax terus berada di bawah harga keekonomian dalam periode panjang. Menurut Yusuf, kondisi tersebut dapat menekan margin, arus kas, laba, hingga kemampuan investasi Pertamina. Dampaknya tidak berhenti pada kinerja perusahaan. Ruang investasi di sektor hulu dan kilang juga berpotensi ikut tertekan.

Produksi Minyak Nasional Masih Jauh dari Kebutuhan

Tekanan harga BBM juga berkaitan erat dengan persoalan struktural industri minyak nasional. Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Bonar Tua Halomoan Marbun menyebut produksi minyak domestik saat ini hanya sekitar 580 ribu barel per hari.

Baca Juga :  Omzet Melejit, Narita Shibori Justru Perluas Pemberdayaan Disabilitas

Di sisi lain, kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Dengan demikian, terdapat kesenjangan sekitar 1 juta barel per hari antara produksi dan kebutuhan. Angka tersebut menunjukkan mengapa Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan minyak dari luar negeri. Semakin besar ketergantungan impor, semakin besar pula sensitivitas biaya BBM terhadap perubahan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.

Impor Membuat Harga BBM Rentan terhadap Gejolak Global

Risiko semakin besar jika rupiah melemah karena transaksi minyak internasional pada dasarnya menggunakan mata uang asing, Belum lagi faktor geopolitik. Gangguan jalur perdagangan, konflik di kawasan produsen minyak, keterbatasan pasokan, hingga meningkatnya biaya pengiriman dapat membuat harga pengadaan berubah cepat.

Bonar menilai persoalan energi saat ini bukan sekadar mengenai kemampuan membeli minyak. Pemerintah juga harus memastikan minyak tersedia, pasokan datang tepat waktu, dan kebutuhan nasional tetap terpenuhi. Karena itu, mempertahankan harga Pertamax dapat di lihat sebagai salah satu cara meredam tekanan tersebut di tingkat konsumen.

Risiko Perpindahan Konsumen ke Pertalite

Ada pertimbangan lain di balik keputusan menahan harga Pertamax. Jika harga BBM nonsubsidi naik terlalu tinggi, sebagian konsumen berpotensi beralih ke Pertalite. Perpindahan tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap konsumsi BBM bersubsidi.

Dalam skenario itu, pemerintah bukan hanya menghadapi persoalan harga Pertamax, tetapi juga berpotensi menghadapi kenaikan kebutuhan anggaran untuk menjaga konsumsi BBM bersubsidi. Karena itu, harga Rp15.950 per liter dapat di lihat sebagai upaya menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat, kesehatan keuangan Pertamina, dan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi.

Pilihan Kebijakan yang Tidak Sederhana

Menahan harga Pertamax memang memberikan keuntungan langsung bagi konsumen. Dengan asumsi konsumsi 50 liter per bulan, selisih Rp850 per liter setara dengan sekitar Rp42.500 per bulan yang tidak perlu di tanggung konsumen di bandingkan jika harga mengikuti estimasi Rp16.800. Namun, jika dilakukan terlalu lama, biaya tersebut dapat berubah menjadi tekanan bagi perusahaan.

Baca Juga :  Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg Resmi Turun, Ada Diskon Tambahan

Sebaliknya, jika harga langsung di naikkan menuju harga keekonomian, konsumen menghadapi tambahan biaya dan inflasi berpotensi mendapatkan tekanan dari kenaikan biaya transportasi. Inilah dilema utama kebijakan BBM, Harga murah membantu daya beli dalam jangka pendek, tetapi harga yang terlalu jauh dari biaya ekonomi dapat menciptakan tekanan keuangan dalam jangka panjang.

Peluang: Efisiensi dan Penguatan Produksi Domestik

Persoalan ini juga membuka ruang untuk kebijakan jangka panjang. Penguatan produksi minyak domestik dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor. Di saat yang sama, peningkatan efisiensi kilang dan distribusi dapat membantu menekan biaya dalam rantai pasok BBM. Bagi Pertamina, efisiensi menjadi semakin penting ketika perusahaan harus menjaga harga jual sekaligus mempertahankan kapasitas investasi. pemerintah, tantangannya adalah memastikan kebijakan harga tidak hanya menyelesaikan tekanan hari ini, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional.

Apa Dampaknya bagi Konsumen?

Dalam waktu dekat, harga Pertamax yang di pertahankan Rp15.950 per liter memberikan ruang bagi konsumen untuk mengendalikan pengeluaran energi. Namun, harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan kondisi pasokan global tetap menjadi faktor yang perlu di perhatikan. Jika biaya keekonomian terus meningkat, mempertahankan harga jual pada level yang sama akan menjadi semakin mahal bagi struktur keuangan perusahaan. Karena itu, perkembangan harga minyak global dan kondisi rupiah menjadi dua indikator penting yang perlu di cermati.

Kesimpulan

Estimasi harga keekonomian Pertamax sebesar Rp16.700-Rp16.800 per liter menunjukkan adanya selisih dengan harga jual Jakarta sebesar Rp15.950 per liter. Kebijakan menahan harga dapat membantu menjaga daya beli dan mencegah perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi.

Namun, kebijakan tersebut memiliki batas ekonomi. Jika berlangsung terlalu lama, tekanan dapat masuk ke margin, arus kas, laba, dan ruang investasi Pertamina. Pada akhirnya, persoalan Pertamax bukan hanya soal berapa harga yang di bayar konsumen, tetapi juga siapa yang menanggung selisihnya dan sampai kapan kebijakan tersebut dapat di pertahankan.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 12:00 WIB

Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950?

Jumat, 4 September 2026 - 09:00 WIB

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Berita Terbaru