Karhutla Mengancam Satwa Kalbar, Pencegahan Jadi Benteng Utama

Asap karhutla mengancam satwa liar Kalbar.

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 5 September 2026 - 08:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Karhutla Mengancam Satwa Kalbar, Pencegahan Jadi Benteng Utama
(Foto: ugm/AI)

Karhutla Mengancam Satwa Kalbar, Pencegahan Jadi Benteng Utama (Foto: ugm/AI)

Khabaroo.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan hilangnya tutupan vegetasi. Di Kalimantan Barat, ancaman itu juga menyasar satwa liar yang bergantung pada hutan sebagai tempat hidup dan bergerak. Karena itu, pencegahan menjadi garis pertahanan pertama. Manggala Agni bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mempercepat pemantauan titik panas, terutama yang muncul di sekitar habitat dan jalur pergerakan satwa. Targetnya jelas: api harus di tangani sebelum berubah menjadi kebakaran besar dan masuk ke kawasan yang menjadi ruang hidup satwa.

Titik Panas Jadi Alarm Awal

Koordinator Manggala Agni Provinsi Kalimantan Barat, Sahat Irawan Manik, mengatakan penanganan sedini mungkin menjadi prioritas. Menurut dia, petugas berupaya mencegah satwa menjadi korban terlebih dahulu, bukan menunggu sampai kebakaran menimbulkan dampak. “Kami sebisa mungkin mengupayakan agar tidak ada dampak kepada satwa. Jadi, kami bukan berupaya menangani ketika sudah menjadi korban, tetapi melakukan pencegahan,” ujar Sahat, Jumat, 4 September 2026.

Pendekatan tersebut membuat titik panas di sekitar kawasan pergerakan orangutan dan satwa lainnya menjadi perhatian. Ketika indikasi kebakaran terdeteksi, petugas berupaya melakukan penanganan sebelum api meluas. Langkah ini penting karena kebakaran yang telanjur membesar akan mempersempit ruang gerak satwa. Api dapat merusak habitat, sementara asap berpotensi mengganggu kesehatan dan memaksa satwa keluar dari wilayah alaminya.

BKSDA Siapkan Tim Penyelamatan

Risiko terhadap satwa juga di antisipasi BKSDA Kalimantan Barat. Tim penyelamatan di siagakan untuk melakukan penanganan satwa atau animal handling ketika terjadi gangguan akibat karhutla. Pengawasan diarahkan ke kawasan yang memiliki potensi gangguan tinggi. Sejumlah satwa yang menjadi perhatian antara lain orangutan dan trenggiling.

Baca Juga :  Fadli Zon Soroti 1.931 Konten Budaya: Museum dan Sejarah Kini Dibawa ke Media Sosial

Di kawasan konservasi Kendawangan, populasi rusa juga menjadi bagian dari ekosistem yang harus di lindungi dari dampak kebakaran. Namun, ancamannya tidak berhenti ketika api berhasil di cegah memasuki habitat. Sahat mengingatkan asap tetap dapat mengganggu kehidupan satwa liar. Kondisi udara yang buruk berpotensi membuat satwa meninggalkan wilayahnya untuk mencari kawasan dengan udara yang lebih bersih.

Artinya, keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup hanya di ukur dari luas lahan yang berhasil di selamatkan dari api. Kualitas udara dan kondisi habitat setelah kebakaran juga menjadi faktor penting.

Kasus Sempurna Mengungkap Risiko Asap

Ancaman tersebut mendapat gambaran nyata dari kasus orangutan jantan dewasa bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang. Sempurna ditemukan dalam kondisi lemah sebelum akhirnya mati. Pemeriksaan BKSDA Kalimantan Barat menemukan gangguan pada paru-paru, jantung, dan ginjal yang di duga berkaitan dengan paparan asap karhutla. Hasil nekropsi menunjukkan adanya perubahan patologis, terutama pada organ paru-paru. Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan pemeriksaan yang dilakukan, paparan asap di duga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi orangutan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa tidak selalu terlihat dalam bentuk luka akibat api. Asap juga dapat menjadi ancaman tersembunyi. Gangguan pada sistem pernapasan berpotensi mengurangi kemampuan paru-paru menjalankan fungsinya dan menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.

Baca Juga :  Korupsi Menggerogoti Keuangan Negara, Prabowo Minta Berantas sampai Akar

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang di duga berkontribusi terhadap kematian Sempurna. “Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang di duga berkontribusi terhadap kematiannya,” kata Murlan.

Gambut Jadi Titik Kritis

Karhutla di kawasan lahan gambut menjadi perhatian khusus karena api dapat lebih sulit di kendalikan dan berpotensi menghasilkan asap dalam jumlah besar. Situasi tersebut menciptakan ancaman berlapis. Api dapat menghancurkan habitat, sedangkan asap menyebar ke wilayah yang lebih luas dan memengaruhi satwa yang tidak berada tepat di lokasi kebakaran. Karena itu, pengendalian karhutla perlu bergerak sebelum kondisi memburuk. Pemantauan titik panas, respons cepat, perlindungan habitat, serta kesiapan tim penyelamatan harus berjalan bersamaan.

Satwa liar Kalimantan Barat, waktu menjadi faktor penting. Semakin cepat api di tangani, semakin besar peluang habitat tetap aman dan satwa tidak terdorong keluar dari wilayah alaminya.

Kasus Sempurna menjadi pengingat bahwa kerusakan akibat karhutla tidak selalu berakhir ketika kobaran api padam. Dampak asap dan gangguan habitat dapat terus membayangi kehidupan satwa. Karena itu, mencegah api sejak awal bukan sekadar strategi penanggulangan bencana. Langkah tersebut juga menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan ekosistem dan melindungi satwa liar Kalimantan Barat.

(A/*)

Berita Terkait

Prabowo Bertemu Dubes AS di Hambalang, Stabilitas ASEAN Jadi Sorotan
Karhutla Mengancam, Komisi XII Minta Peringatan Dini Diperkuat
Bapanas Dapat Suntikan Rp16,79 Triliun untuk Jaga Harga Pangan 2027
Gelar Kehormatan Sejumlah Tokoh Dibahas Prabowo dan Fadli Zon di Hambalang
Fadli Zon Soroti 1.931 Konten Budaya: Museum dan Sejarah Kini Dibawa ke Media Sosial
Karhutla Mengganas, Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Masuk Kategori Berbahaya
Karhutla Kalimantan Meluas, Polutan Diprediksi Bergerak ke Utara
SPHP Jagung Tembus 127 Ribu Ton, Kementan Pastikan Peternak Kebagian
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 07:00 WIB

Prabowo Bertemu Dubes AS di Hambalang, Stabilitas ASEAN Jadi Sorotan

Sabtu, 5 September 2026 - 08:00 WIB

Karhutla Mengancam Satwa Kalbar, Pencegahan Jadi Benteng Utama

Jumat, 4 September 2026 - 07:00 WIB

Karhutla Mengancam, Komisi XII Minta Peringatan Dini Diperkuat

Kamis, 3 September 2026 - 08:00 WIB

Bapanas Dapat Suntikan Rp16,79 Triliun untuk Jaga Harga Pangan 2027

Rabu, 2 September 2026 - 08:00 WIB

Gelar Kehormatan Sejumlah Tokoh Dibahas Prabowo dan Fadli Zon di Hambalang

Berita Terbaru