IHSG Naik ke 6.524, Investor Wajib Waspadai 4 Risiko Ini

IHSG naik 0,35%, namun tekanan global dan defisit transaksi berjalan tetap jadi risiko.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 12:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

IHSG Naik ke 6.524, Investor Wajib Waspadai 4 Risiko Ini
(Foto: Ist/rri/AI)

IHSG Naik ke 6.524, Investor Wajib Waspadai 4 Risiko Ini (Foto: Ist/rri/AI)

Khabaroo.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan pada pembukaan perdagangan Jumat (21/8/2026). Indeks naik 22,48 poin atau 0,35 persen ke level 6.524,07. Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan, LQ45 naik 2,62 poin atau 0,41 persen menjadi 641,36. Kenaikan tersebut menunjukkan minat beli masih bertahan. Namun, ruang penguatan IHSG tidak sepenuhnya bebas dari risiko karena pasar global memberikan sejumlah sinyal negatif.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, IHSG berpeluang menguji level 6.600 apabila mampu bertahan di atas MA100. MA100 merupakan indikator teknikal yang menggambarkan rata-rata pergerakan indeks selama 100 periode. Jika level tersebut mampu dipertahankan, IHSG juga berpotensi menutup gap menuju 6.700. Meski begitu, investor perlu mengantisipasi sentimen eksternal dan kecenderungan pasar menjelang akhir pekan.

Aturan Baru BEI Bisa Mengubah Dinamika Saham Harga Rendah

Pasar domestik juga menunggu perubahan aturan perdagangan saham yang tengah disiapkan Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI berencana menurunkan batas minimum harga saham yang dapat diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai. Batas tersebut akan berubah dari Rp50 menjadi Rp1 per saham.

Perubahan ini berpotensi memperluas ruang perdagangan saham berharga sangat rendah. BEI juga berencana menghapus dua kriteria dalam Papan Pemantauan Khusus. Salah satunya berkaitan dengan saham yang memiliki harga rata-rata di bawah Rp51 dan likuiditas rendah dalam tiga bulan terakhir. Kriteria lain yang akan dihapus berkaitan dengan emiten yang sudah tidak memenuhi kriteria Papan Pemantauan Khusus lainnya, tetapi harga sahamnya belum mencapai Rp50.

Batas ARB dan ARA Akan Disesuaikan

Auto rejection bawah (ARB), saham dengan harga Rp1-Rp10 akan menggunakan batas Rp1 berdasarkan nilai nominal. Sementara itu, saham dengan harga Rp11-Rp200, Rp201-Rp5.000, serta di atas Rp5.000 akan memiliki batas ARB sebesar 15 persen, Untuk auto rejection atas (ARA), saham Rp1-Rp10 juga menggunakan batas Rp1 berdasarkan nilai nominal. Adapun saham Rp11-Rp200 memiliki ARA 35 persen, saham Rp201-Rp5.000 sebesar 25 persen, dan saham di atas Rp5.000 sebesar 20 persen.

BEI akan melakukan uji coba perubahan aturan tersebut bersama Anggota Bursa pada 22 dan 29 Agustus 2026. seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, aturan baru ditargetkan mulai berlaku pada 7 September 2026. Investor, perubahan ini penting karena batas pergerakan harga akan memengaruhi potensi keuntungan sekaligus risiko kerugian dalam satu sesi perdagangan.

Baca Juga :  Omzet UMKM Binaan Pertamina Tembus Rp8,57 Miliar, Akses Pasar Jadi Kunci

Yield US Treasury Jadi Risiko Utama

Yield US Treasury 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704 persen pada Kamis (20/8). Sementara itu, yield obligasi AS tenor 30 tahun meningkat 5 basis poin menjadi 5,248 persen. Kenaikan yield menjadi perhatian karena biaya pendanaan perusahaan dapat ikut terdorong naik. Sederhananya, ketika bunga obligasi pemerintah AS meningkat, biaya pinjaman di pasar keuangan cenderung menjadi lebih mahal. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, laba perusahaan bisa tertekan.

Dampaknya dapat merembet ke valuasi saham dan menghambat penguatan indeks. Ratna Lim menilai kondisi tersebut perlu dicermati karena IHSG saat ini masih berada dalam fase bullish. Di sisi lain, Departemen Keuangan AS memiliki rencana melakukan pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah dalam skala besar. Kebijakan tersebut di arahkan untuk membantu menekan yield obligasi jangka panjang. yield US Treasury mulai turun, tekanan terhadap aset berisiko seperti saham berpotensi berkurang.

Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Kembali Muncul

Harga minyak mentah naik lebih dari 2 persen pada Kamis (20/8). Kenaikan terjadi setelah Menteri Keuangan AS menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan menerapkan sanksi berat terhadap Iran, Bagi pasar saham, kenaikan harga minyak memiliki dua sisi. Di satu sisi, emiten sektor energi dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas. Namun, jika harga minyak bertahan tinggi, biaya produksi dan transportasi berbagai perusahaan juga berpotensi meningkat, Kondisi tersebut dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.

Wall Street Kompak Melemah

Pelemahan juga terlihat di pasar saham Amerika Serikat, S&P 500 turun 0,87 persen menjadi 7.641,16. Nasdaq Composite melemah 0,72 persen ke level 29.213,17. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menjadi indeks dengan penurunan terbesar, yakni 1,32 persen ke 52.759,21. Kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa investor global masih berhati-hati terhadap perkembangan suku bunga, yield obligasi, serta prospek laba perusahaan.

Di Eropa, mayoritas indeks juga berakhir di zona merah. Euro Stoxx 50 turun 0,37 persen, DAX Jerman melemah 0,42 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,57 persen. FTSE 100 Inggris menjadi pengecualian dengan kenaikan tipis 0,04 persen.

Bursa Asia Bergerak Campuran

Perdagangan bursa Asia pada Jumat pagi berlangsung beragam, Nikkei Jepang turun 0,49 persen ke 65.956. Shanghai Composite naik tipis 0,03 persen menjadi 3.905,95. Hang Seng Hong Kong menguat 0,56 persen ke 25.841,76. Kospi Korea Selatan bahkan naik 0,77 persen ke 6.905,52. Sementara itu, Strait Times Singapura melemah tipis 0,03 persen ke 5.670,60, Pergerakan campuran tersebut menunjukkan investor Asia belum memiliki arah yang seragam dalam merespons tekanan pasar global.

Baca Juga :  Pasar Kripto Indonesia Tumbuh Pesat, 22,69 Juta Pengguna Jadi Buktinya

Rupiah Stabil di Rp17.748 per Dolar AS

Di pasar valuta asing, rupiah bergerak relatif stabil, Pada pembukaan perdagangan Jumat, rupiah berada di Rp17.748 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan sebelumnya, Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II 2026 oleh Bank Indonesia.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan transaksi berjalan Indonesia mengalami pelebaran defisit,  Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) di perkirakan mencapai 3,09 persen terhadap PDB, naik tajam dari 1,09 persen terhadap PDB pada kuartal I 2026.

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Risiko Domestik

Pelebaran CAD terutama di pengaruhi meningkatnya arus keluar pendapatan primer. Salah satu penyebabnya adalah pembayaran imbal hasil atas aset domestik kepada investor nonresiden. Selain itu, kinerja neraca barang juga berpotensi menekan transaksi berjalan setelah Indonesia mencatat defisit perdagangan pada Mei dan Juni 2026, pembaca umum, CAD menunjukkan seberapa besar kebutuhan pembiayaan dari luar negeri akibat transaksi ekonomi Indonesia dengan negara lain.

Semakin besar defisit, semakin penting kemampuan Indonesia menarik modal asing dan menjaga kepercayaan investor. Karena itu, data NPI menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah dan IHSG dalam jangka pendek.

Peluang IHSG Masih Terbuka, tetapi Risiko Meningkat

Secara keseluruhan, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan rally apabila mampu mempertahankan posisi di atas MA100. Target teknikal terdekat berada di 6.600, dengan peluang berikutnya menuju 6.700 apabila momentum penguatan tetap terjaga. Pertama, yield US Treasury masih tinggi. Kedua, Wall Street melemah. Ketiga, harga minyak meningkat. Keempat, rupiah menghadapi potensi tekanan jika defisit transaksi berjalan melebar.

Di sisi domestik, perubahan aturan perdagangan BEI justru membuka peluang baru sekaligus meningkatkan kebutuhan manajemen risiko, terutama pada saham berharga sangat rendah. Dengan kondisi tersebut, penguatan IHSG pada pembukaan Jumat belum bisa di artikan sebagai sinyal bahwa risiko pasar telah hilang. Investor perlu melihat apakah penguatan mampu bertahan hingga akhir sesi perdagangan dan bagaimana pasar merespons data ekonomi domestik serta perkembangan yield obligasi AS.

(A/*)

Berita Terkait

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Anggaran Karhutla Kalimantan Siap, BNPB Tinggal Ajukan Kebutuhan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta

Berita Terbaru