Khabaroo.com – Christopher Nolan bukan hanya identik dengan film-film ambisius, tetapi juga mesin box office, The Odyssey membuktikannya Dalam waktu kurang dari sebulan sejak tayang, film epik yang mengadaptasi puisi klasik karya Homer itu berhasil melewati pendapatan The Dark Knight Rises dan menjadi film dengan penghasilan global terbesar sepanjang karier Nolan.
Capaian tersebut sekaligus menandai perubahan besar dalam peta kesuksesan komersial sang sutradara. Berdasarkan laporan box office terbaru, The Odyssey telah mengumpulkan sekitar US$1,1 miliar atau setara hampir Rp19,8 triliun secara global. Angka tersebut menempatkannya di atas The Dark Knight Rises yang mengakhiri penayangan dengan sekitar US$1,085 miliar.
Rekor 14 Tahun Akhirnya Tumbang
The Odyssey datang, rekor tersebut menjadi milik The Dark Knight Rises sejak 2012. Film penutup trilogi Batman Nolan itu memiliki keunggulan besar dari sisi popularitas karakter. Namun, lebih dari satu dekade kemudian, Nolan justru berhasil melewati rekor tersebut lewat kisah yang jauh lebih tua: perjalanan Odysseus pulang ke Ithaca.
Menariknya, The Odyssey tidak membutuhkan waralaba superhero untuk mencetak angka fantastis. Film ini mengandalkan nama besar Nolan, kekuatan cerita klasik, jajaran aktor papan atas, serta pengalaman sinematik yang dirancang untuk layar raksasa. Dengan pencapaian tersebut, The Odyssey kini menjadi film terlaris Nolan secara nominal, tanpa memperhitungkan penyesuaian inflasi.
Awalnya Sudah Memberi Sinyal Bahaya
Pada debut globalnya, The Odyssey mengantongi sekitar US$263,8 juta. Angka tersebut menjadi pembukaan terbesar sepanjang karier Nolan. Bahkan, film ini langsung melewati pencapaian Oppenheimer pada periode debutnya.
Performa tersebut tidak berhenti setelah akhir pekan pertama. Pada pekan kedua, film mengalami penurunan yang relatif kecil. Pendapatan domestiknya tetap kuat, sementara pasar internasional ikut menopang laju perolehan global. Variety mencatat pendapatan akhir pekan kedua mencapai sekitar US$90 juta, hanya turun sekitar 27 persen dari debut domestiknya, Artinya penonton tidak sekadar penasaran. Mereka datang kembali, dan itu menjadi sinyal penting bagi sebuah film dengan biaya produksi besar.
Bukan Sekadar Film Mahal
The Odyssey diproduksi dengan anggaran sekitar US$250 juta. Dengan biaya sebesar itu, tekanan komersial terhadap film tersebut tentu tidak kecil, Namun Nolan mengambil risiko yang tidak biasa. Alih-alih membuat film dengan formula waralaba yang sudah terbukti, ia membawa kisah epik berusia ribuan tahun ke bioskop modern. Tokoh utamanya adalah Odysseus, Raja Ithaca yang berusaha pulang setelah Perang Troya.
Perjalanannya bukan sekadar perjalanan fisik, Odysseus harus menghadapi berbagai ancaman, termasuk makhluk mitologis, laut, godaan, dan konflik yang menguji ketahanan dirinya. Nolan kemudian menerjemahkan kisah tersebut ke dalam skala produksi yang sangat besar.
IMAX Menjadi Salah Satu Senjata Utama
Nolan bersama sinematografer Hoyte van Hoytema menggunakan kamera IMAX dalam produksi film tersebut. Strategi itu membuat lanskap, pertempuran, laut, dan berbagai adegan spektakuler dirancang untuk memberikan pengalaman yang jauh lebih besar ketika ditonton di bioskop.
Dampaknya terlihat pada pendapatan format premium, Laporan terbaru menyebut The Odyssey telah mengumpulkan sekitar US$289 juta dari IMAX, menjadikannya salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah format tersebut. Penonton bukan hanya membeli tiket untuk mengetahui akhir cerita. Mereka juga membeli pengalaman visual yang sulit digantikan layar televisi atau perangkat pribadi.
Matt Damon hingga Tom Holland
Matt Damon tampil sebagai Odysseus. Ia didampingi Tom Holland, Anne Hathaway, Zendaya, Robert Pattinson, Samantha Morton, Jon Bernthal, Benny Safdie, Lupita Nyong’o, hingga Charlize Theron. Kombinasi tersebut memperluas daya tarik film ke berbagai kelompok penonton.
Nama Nolan menarik penonton film serius. Matt Damon membawa daya tarik bintang Hollywood. Sementara kehadiran Tom Holland dan Zendaya memberi tambahan magnet bagi penonton yang lebih muda.
Dari Kisah Homer Menjadi Fenomena Budaya
The Odyssey juga menarik perhatian di luar bioskop, Ketika sebuah film mengangkat karya sastra klasik, dampaknya tidak selalu berhenti pada penjualan tiket. Popularitas film dapat mendorong penonton mencari sumber cerita aslinya. Dalam kasus The Odyssey, laporan yang beredar menyebut terjadi lonjakan minat terhadap budaya dan bahasa Yunani, termasuk peningkatan pencarian daring mengenai cara mempelajari bahasa Yunani serta kenaikan penjualan puisi epik karya Homer. Fenomena tersebut menunjukkan satu hal: adaptasi film dapat menghidupkan kembali karya klasik di tengah generasi yang mungkin sebelumnya tidak pernah membacanya.
Tantangan Berikutnya: Seberapa Jauh Bisa Melaju?
Rekor Nolan sudah berpindah tangan. Tetapi perjalanan The Odyssey belum tentu selesai, Film tersebut masih menghadapi persaingan dengan blockbuster lain. Spider-Man: Brand New Day, misalnya, telah melaju jauh lebih cepat dan mencapai sekitar US$1,67 miliar secara global hanya dalam 10 hari, sehingga The Odyssey belum menjadi film terlaris tahun ini.
Namun dari sudut pandang Nolan, persoalannya sudah berubah, Pertanyaan awalnya adalah apakah The Odyssey mampu menembus US$1 miliar. Kini pertanyaannya jauh lebih besar: berapa tinggi film ini bisa bertahan sebelum perjalanan Odysseus benar-benar berakhir di box office? Satu rekor telah tumbang. Dan kali ini, Nolan tidak menggunakan Batman untuk melakukannya.
(A/*)










