Khabaroo.com – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memantau kualitas udara di enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan dilakukan ketika aktivitas titik panas masih tinggi di sejumlah wilayah. Pemerintah tidak hanya mengandalkan data satelit, tetapi juga mengecek kondisi api, sebaran asap, cuaca, kualitas udara, hingga jarak pandang.
Kualitas Udara Kalimantan Masuk Zona Bahaya
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan seluruh indikator tersebut dipantau secara terpadu. Menurutnya, data itu menjadi dasar untuk menentukan langkah pengendalian karhutla berikutnya. “Jadi kita tidak hanya melihat hotspot-nya saja. Kondisi kualitas udara, sebaran asap, jarak pandang, cuaca, juga terus kita pantau untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya,” kata Ristianto dalam keterangannya, Minggu (30/8/2026).
Hasil pemantauan menunjukkan kondisi udara di enam provinsi masih berbeda-beda, Di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sejumlah titik pemantauan bahkan masuk kategori berbahaya. Kondisi terburuk berikutnya terpantau di Kalimantan Selatan. Kualitas udara di sejumlah titik berada pada level sangat tidak sehat.
Sementara itu, titik pemantauan di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada pada kategori tidak sehat. Situasi tersebut menjadi sinyal bahwa dampak asap masih harus di waspadai, terutama di daerah yang mengalami peningkatan aktivitas karhutla.
Jarak Pandang Turun, Palangka Raya hingga Banjarmasin Terdampak
Berdasarkan pengamatan BMKG pada Sabtu (29/8/2026) pagi, jarak pandang di Palangka Raya mencapai 3 kilometer dalam kondisi berasap. Di Pontianak, jarak pandang hanya 0,8 kilometer. Kondisi serupa terjadi di Jambi dengan jarak pandang 0,8 kilometer, Banjarmasin mencatat jarak pandang lebih pendek lagi, yakni 0,5 kilometer dalam kondisi berasap.
Sementara itu, Palembang memiliki jarak pandang 6 kilometer dengan kondisi cerah berawan. Di Pekanbaru, jarak pandang tercatat 2,5 kilometer dan masih di selimuti asap. Angka tersebut memperlihatkan bahwa konsentrasi asap dapat memengaruhi kondisi lingkungan secara langsung. Namun, tingkat gangguannya tidak selalu sama dari waktu ke waktu. “Jarak pandang ini bisa berubah-ubah tergantung konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, curah hujan, maupun kondisi atmosfer. Karena itu, pemantauan harus dilakukan terus-menerus,” ujar Ristianto.
Hotspot Bukan Otomatis Kebakaran
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan. Data tersebut masih membutuhkan verifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan. Karena itu, petugas melakukan groundcheck dan pemantauan langsung sebelum menentukan penanganan, “ Tetap harus di verifikasi di lapangan agar kita mengetahui kondisi sebenarnya,” kata Ristianto. Pendekatan tersebut penting untuk mencegah kesalahan membaca situasi. Data satelit berfungsi sebagai indikator awal, sedangkan kondisi faktual di lapangan menjadi dasar tindak lanjut operasi.
Pemerintah Antisipasi Dampak Asap ke Masyarakat
Data kualitas udara dan jarak pandang menjadi bagian dari pertimbangan pemerintah dalam menentukan operasi pengendalian karhutla. Risikonya tidak hanya berkaitan dengan titik api. Ketika asap menebal, aktivitas masyarakat juga dapat terganggu, terutama di wilayah dengan jarak pandang rendah dan kualitas udara memburuk.
Kemenhut meminta masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga di daerah terdampak asap juga di minta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara. Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi cuaca dan jarak pandang sebelum beraktivitas. Jika kondisi lingkungan memburuk, aktivitas sebaiknya di sesuaikan dengan situasi.
Masyarakat Di minta Segera Laporkan Titik Api
Kemenhut juga membuka jalur laporan bagi masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, Laporan sedini mungkin di nilai penting agar petugas dapat melakukan tindak lanjut sebelum api meluas.
Masyarakat dapat melaporkan kejadian karhutla melalui:
- Posko Karhutla Kementerian Kehutanan: 021-5704618
- WhatsApp: +62 8131-00-35000
- Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id
Pemantauan kualitas udara, sebaran asap, cuaca, hingga hotspot akan terus dilakukan. Di tengah aktivitas karhutla yang masih tinggi, kecepatan mendeteksi dan memverifikasi indikasi kebakaran menjadi kunci untuk menekan dampaknya.
(A/*)










