Khabaroo.com – PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Pertamax Green 95 mulai 2 September 2026 pukul 00.00 WIB. Harganya naik dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter. Artinya, konsumen harus membayar tambahan Rp2.550 untuk setiap liter, Jika di hitung secara persentase, kenaikan tersebut mencapai sekitar 15,4 persen.
Kenaikan ini bukan perubahan kecil. Bagi pengguna yang rutin mengisi BBM, tambahan Rp2.550 per liter bisa langsung terasa dalam pengeluaran bulanan. Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan penyesuaian Pertamax Green 95 merupakan bagian dari penyesuaian harga produk BBM non-subsidi. Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga juga telah melakukan penyesuaian harga untuk sejumlah produk BBM non-subsidi, seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite.
Berapa Tambahan Pengeluaran Konsumen?
Dampak kenaikan akan bergantung pada volume konsumsi. Sebagai gambaran sederhana, jika kendaraan membutuhkan 40 liter Pertamax Green 95 dalam satu kali pengisian, tambahan biaya yang harus di keluarkan mencapai: 40 liter × Rp2.550 = Rp102.000.
Dengan kata lain, pengisian 40 liter kini membutuhkan tambahan sekitar Rp102 ribu di bandingkan harga sebelumnya. Jika konsumsi mencapai 100 liter per bulan, tambahan pengeluaran menjadi sekitar Rp255 ribu. Angka tersebut penting bagi konsumen karena kenaikan harga BBM tidak hanya memengaruhi biaya perjalanan, tetapi juga dapat meningkatkan biaya operasional kendaraan secara keseluruhan.
Efek Ekonomi: Bukan Sekadar Harga di SPBU
BBM merupakan salah satu komponen biaya yang cukup sensitif dalam aktivitas ekonomi. Bagi rumah tangga, kenaikan harga BBM dapat mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan lain jika konsumsi kendaraan tidak berubah. Sementara bagi pelaku usaha, BBM menjadi bagian dari biaya operasional. Dampaknya akan semakin terasa bagi bisnis yang memiliki mobilitas tinggi.
Namun, besarnya dampak ekonomi tidak otomatis sama untuk seluruh masyarakat. Konsumen yang jarang menggunakan kendaraan akan mengalami kenaikan pengeluaran yang relatif kecil. Sebaliknya, pengguna dengan jarak tempuh tinggi akan menghadapi tekanan biaya lebih besar.
Pertamax Green 95 dan Peluang Energi Berkelanjutan
Pertamax Green 95 merupakan BBM dengan Research Octane Number (RON) 95 yang menggunakan campuran bioetanol. Produk ini di kembangkan sebagai bagian dari upaya mendorong penggunaan energi yang lebih berkelanjutan. Dari sisi ekonomi, pengembangan BBM berbasis bioetanol membuka peluang bagi terbentuknya rantai ekonomi baru. Mulai dari produksi bahan baku, pengolahan bioetanol, distribusi hingga industri pendukung. Artinya, Pertamax Green 95 tidak hanya berbicara mengenai harga BBM di tingkat konsumen. Produk ini juga berkaitan dengan agenda di versifikasi energi dan pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya domestik.
Risiko yang Perlu Di perhatikan
Risiko utamanya berada pada daya beli konsumen dan biaya operasional. Ketika harga BBM naik, konsumen harus menentukan apakah tetap menggunakan produk tersebut atau beralih ke BBM dengan harga lebih rendah yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan. Bagi pelaku usaha, kenaikan biaya bahan bakar juga perlu di perhitungkan dalam anggaran operasional. Jika biaya tersebut akhirnya di teruskan ke harga barang atau jasa, efeknya dapat merembet ke konsumen. Namun, efek tersebut bergantung pada seberapa besar porsi BBM terhadap total biaya masing-masing pengguna atau bisnis.
Gunakan BBM Sesuai Spesifikasi Kendaraan
Pertamina Patra Niaga tetap menekankan pentingnya penggunaan BBM sesuai spesifikasi kendaraan. Kesesuaian oktan dengan kebutuhan mesin penting untuk menjaga performa kendaraan sekaligus menghindari keputusan memilih BBM semata-mata berdasarkan harga. Dengan kenaikan Pertamax Green 95 menjadi Rp19.150 per liter, konsumen kini memiliki pertimbangan baru: biaya, spesifikasi kendaraan, efisiensi konsumsi, dan tujuan penggunaan BBM.
Informasi mengenai harga dan layanan BBM Pertamina dapat di peroleh melalui Pertamina Contact Center 135 dan kanal resmi Pertamina Patra Niaga.
Analisis Singkat
Kenaikan harga: Rp2.550/liter
Harga sebelumnya: Rp16.600/liter
Harga baru: Rp19.150/liter
Persentase kenaikan: sekitar 15,4%
Tambahan biaya 40 liter: Rp102.000
Tambahan biaya 100 liter: Rp255.000
Peluang: pengembangan ekosistem bioetanol dan di versifikasi energi.
Risiko: peningkatan biaya mobilitas rumah tangga serta biaya operasional bisnis yang menggunakan kendaraan secara intensif.
(A/*)










