Khabaroo.com – Keindahan alam Kabupaten Kerinci, Jambi, seperti tidak pernah habis untuk dijelajahi. Setelah Gunung Kerinci, kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) masih menyimpan banyak destinasi alami yang jauh dari hiruk-pikuk wisata perkotaan, Salah satunya Air Terjun Renah Pemetik.
Air terjun ini berada di Desa Lubuk Tabun, Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci. Lokasinya cukup terpencil dan jauh dari permukiman warga, Justru kondisi tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Hutan yang masih asri, tebing tinggi, pepohonan besar, serta suara aliran air menciptakan suasana yang sulit di temukan di kawasan wisata yang sudah ramai.
Perjalanan 60 Kilometer dari Sungai Penuh
Air Terjun Renah Pemetik, wisatawan harus menyiapkan fisik sejak awal perjalanan. Fotografer Kerinci, Edwin, mengatakan lokasi air terjun berjarak sekitar 60 kilometer dari Sungai Penuh. Perjalanan menuju Desa Lubuk Tabun membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum menuju desa.
Namun, perjalanan belum selesai. Dari Desa Lubuk Tabun, pengunjung masih harus berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Trekking menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan menuju air terjun, Medannya cukup menantang. Jalur tanah berbatu harus di lewati. Wisatawan juga akan melintasi sungai dan perbukitan.
Meski melelahkan, perjalanan tersebut menawarkan pengalaman berbeda. Sepanjang jalur, pengunjung masih dapat menikmati lanskap alam Kerinci yang relatif lestari. “Air terjun ini belum banyak di kunjungi wisatawan, karena lokasinya jauh dan terpencil. Selain itu medan yang harus di lalui pun cukup berat, sehingga banyak wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk berkunjung. Namun tempat ini seolah menjadi surga bagi para wisatawan yang berjiwa petualang,” kata Edwin, Rabu, 28 Januari 2026.
Suara Gemuruh Menjadi Penanda Lokasi
Setelah berjalan cukup jauh, suasana perjalanan mulai berubah. Beberapa ratus meter sebelum lokasi air terjun, suara gemuruh air mulai terdengar. Semakin dekat, suara tersebut semakin keras, Deru air menjadi semacam penanda bahwa tujuan sudah berada di depan mata. Setelah perjalanan yang menguras tenaga, pemandangan Air Terjun Renah Pemetik menjadi pelepas lelah.
Air terjun tersebut memiliki ketinggian sekitar 65 meter. Alirannya jatuh dari tebing yang menjulang dan di kelilingi tumbuhan serta lumut, Tebing yang di penuhi vegetasi membuat panorama semakin dramatis. Air yang jatuh menghantam bebatuan juga menghasilkan percikan dan embun. Dalam kondisi tertentu, percikan tersebut bahkan dapat menghalangi pandangan. Udara di sekitar air terjun terasa sejuk. Angin yang berembus membuat hawa dingin semakin terasa.
Hutan Alami dan Pohon Berusia Ratusan Tahun
Keindahan Renah Pemetik tidak hanya terletak pada air terjunnya. Menurut keterangan warga setempat yang di sampaikan Edwin, kawasan di sekitar air terjun memiliki pohon-pohon besar yang di perkirakan berusia ratusan tahun. Hutan alami juga masih menjadi bagian dari lanskap kawasan tersebut.
Hewan-hewan liar terkadang masih dapat di temukan di sekitar hutan. Faktor ini sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan menuju Renah Pemetik bukan sekadar wisata air terjun. Pengunjung juga memasuki kawasan alam yang memiliki ekosistem dan kekayaan hayati. Kawasan tersebut berada di dalam TNKS. Status kawasan konservasi menjadi salah satu faktor penting yang membuat kondisi alamnya tetap terjaga.
Pertemuan Dua Sungai di Atas Tebing
Ada cerita lain yang membuat Air Terjun Renah Pemetik semakin menarik. Menurut informasi warga setempat, air terjun tersebut di yakini berasal dari pertemuan dua sungai yang berada di atas tebing, Dari bagian atas, wisatawan sebenarnya dapat menikmati lanskap berbeda.
Namun, akses menuju bagian atas tebing tidak mudah. Jalurnya disebut sangat berbahaya dan hanya cocok bagi orang yang memiliki pengalaman serta keberanian menghadapi medan ekstrem, Karena itu, faktor keselamatan tidak boleh di abaikan. Keindahan alam memang menjadi magnet, tetapi medan yang sulit juga menjadi risiko yang harus di perhitungkan sebelum perjalanan dilakukan.
(A/*)










