Khabaroo.com, Sungai Penuh – Kabut asap yang menyelimuti Kota Sungai Penuh, Jambi, sempat mendorong kualitas udara ke kategori tidak sehat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai angka 106 pada 9–10 Oktober 2026. Kondisi ini menjadi peringatan bagi masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. Angka tersebut kemudian menurun. Namun, perubahan kualitas udara dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pemantauan tetap diperlukan. Pemerintah daerah juga membuka kemungkinan menerapkan pembelajaran daring apabila kondisi kembali memburuk.
ISPU Sungai Penuh Naik dari Sedang ke Tidak Sehat
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sungai Penuh mencatat perubahan kualitas udara sejak 8 Oktober 2026. Pada periode 8–9 Oktober, angka ISPU berada di rentang 34–99, yang mencakup kategori baik hingga sedang. Situasi berubah pada 9–10 Oktober. Angka ISPU meningkat hingga 106, sehingga kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Setelah mencapai titik tersebut, kondisi udara mulai membaik. DLH mencatat ISPU turun ke rentang 65–98 pada 10–11 Oktober. Selanjutnya, pada 12 Oktober, kualitas udara kembali berada dalam kategori sedang. Sekretaris DLH Kota Sungai Penuh, Azmardi, menyampaikan perkembangan itu berdasarkan hasil pemantauan alat ISPU yang ditempatkan di rumah dinas Wali Kota Sungai Penuh.
“Berdasarkan hasil pemantauan, kualitas udara di Kota Sungai Penuh sempat masuk kategori tidak sehat. Setelah itu, angka ISPU mulai turun dan kondisi udara berangsur membaik,” ujar Azmardi, Selasa, 13 Oktober 2026.
Kabut Asap Jadi Risiko bagi Kesehatan Warga
Penurunan ISPU belum menjadi alasan untuk mengabaikan potensi paparan polutan. Jika kabut asap kembali menebal, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan berisiko terpapar udara yang kualitasnya memburuk. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Begitu pula warga dengan gangguan pernapasan yang dapat lebih rentan ketika konsentrasi pencemar udara meningkat.
Karena itu, masyarakat di minta membatasi aktivitas luar ruangan saat kondisi udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai juga di anjurkan sebagai salah satu langkah perlindungan ketika harus beraktivitas di luar rumah. Meski demikian, penurunan angka ISPU saja belum menjelaskan sumber kabut asap maupun penyebab peningkatan polutan. Informasi mengenai asal asap dan perkembangan kondisi lingkungan masih di perlukan untuk memahami persoalan secara lebih menyeluruh.
DLH Pantau Udara, Pembelajaran Daring Jadi Pertimbangan
Pemantauan kualitas udara menjadi salah satu dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah perlindungan masyarakat. Data ISPU digunakan untuk melihat perkembangan kondisi lingkungan sekaligus menjadi bahan evaluasi jika pencemaran kembali meningkat. Azmardi mengatakan, pemerintah daerah turut mempertimbangkan pembelajaran daring bagi siswa apabila kualitas udara kembali memburuk.
“Data pemantauan kualitas udara menjadi salah satu acuan pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan. Kami juga mempertimbangkan pembelajaran daring untuk melindungi siswa dari paparan kabut asap,” jelasnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kondisi udara berpotensi memengaruhi kegiatan pendidikan, bukan hanya aktivitas masyarakat di luar rumah. Namun, pembelajaran daring masih berupa pertimbangan, bukan keputusan yang telah di pastikan berlaku.
Masyarakat Di minta Tidak Mengabaikan Perubahan ISPU
DLH Kota Sungai Penuh akan terus memantau perkembangan kualitas udara sebagai bahan evaluasi kondisi lingkungan. Masyarakat juga di harapkan mengikuti informasi resmi dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara terkini. Ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian: perkembangan angka ISPU, kemungkinan kabut asap kembali menebal, serta kebijakan perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk siswa. Kualitas udara memang berangsur membaik setelah ISPU mencapai 106. Namun, konsistensi pemantauan dan kecepatan penyampaian informasi tetap penting agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan secara tepat.
(A/*)










