Indonesia Hadapi Ledakan AI, Jadi Pengguna atau Mulai Menciptakan?

Ledakan AI membuka peluang, Indonesia masih terkendala kapasitas.

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 6 September 2026 - 09:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia Hadapi Ledakan AI, Jadi Pengguna atau Mulai Menciptakan?
(Foto: medcom/AI)

Indonesia Hadapi Ledakan AI, Jadi Pengguna atau Mulai Menciptakan? (Foto: medcom/AI)

Khabaroo.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bergerak jauh lebih cepat di banding kesiapan banyak negara dalam membangun ekosistem teknologinya. Bagi Indonesia, persoalannya bukan lagi sekadar seberapa banyak masyarakat menggunakan AI. Tantangan yang lebih besar adalah apakah teknologi tersebut mampu menghasilkan kapasitas ekonomi dan teknologi nasional.

Jika hanya menjadi pengguna, nilai ekonomi terbesar dari perkembangan AI berpotensi tetap berada di tangan negara dan perusahaan yang menguasai data, komputasi, model AI, infrastruktur, serta talenta. Sebaliknya, jika mampu membangun ekosistem sendiri, Indonesia berpeluang menjadikan AI sebagai mesin baru untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi, dan memperkuat daya saing industri.

AI Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Infrastruktur Ekonomi Baru

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam World Encounter Summit 2026 di Bali. Forum ini mempertemukan pemimpin pemerintahan, akademisi, pemuda, tokoh agama, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil dari berbagai negara. Rangkaian kegiatan di mulai melalui Bali Harmony Dialogue di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, pada Kamis (3/9/2026).

Agenda kemudian di lanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4–6 September 2026. Peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial. Namun, ada satu persoalan ekonomi yang tidak bisa di abaikan: kemampuan setiap negara dalam mengakses dan mengembangkan AI tidak sama.

Penguasaan AI membutuhkan lebih dari sekadar aplikasi. Negara membutuhkan data berkualitas, pusat komputasi, jaringan digital, energi, peneliti, insinyur, serta regulasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi. Artinya, AI secara perlahan berubah menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi. Negara yang mampu menguasainya memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah.

Luhut: Indonesia Perlu Bangun Kapasitas Teknologi

Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan menilai Indonesia perlu membangun kapasitas teknologi secara mandiri. Menurut dia, pengembangan AI perlu di topang oleh energi bersih dan pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM. “Salah satunya melalui pengembangan AI yang di topang energi bersih serta pendidikan STEM,” ujar Luhut dalam siaran pers yang di terima Sabtu (5/9/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI memiliki kebutuhan ekonomi yang saling berkaitan. AI membutuhkan pusat data dan komputasi dalam skala besar. Infrastruktur tersebut membutuhkan pasokan listrik yang stabil. Pada saat yang sama, industri teknologi membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis tinggi. Karena itu, investasi AI tidak cukup hanya berupa pembelian perangkat atau penggunaan aplikasi. Indonesia perlu membangun rantai nilai teknologi dari pendidikan, riset, infrastruktur hingga komersialisasi.

Baca Juga :  Pasar Kripto Indonesia Tumbuh Pesat, 22,69 Juta Pengguna Jadi Buktinya

Tingginya Penggunaan Belum Berarti Kapasitas Nasional

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyoroti tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia. Namun, penggunaan tersebut perlu di ikuti dengan penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan, “Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional,” kata Meutya.

Pernyataan ini penting dari sudut pandang ekonomi, Masyarakat yang menggunakan AI memang bisa memperoleh manfaat berupa efisiensi waktu dan peningkatan produktivitas. Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan AI untuk pemasaran, analisis data, layanan pelanggan, hingga otomatisasi pekerjaan tertentu. Namun, manfaat tersebut berbeda dengan kemampuan menciptakan teknologi. Perbedaan sederhananya adalah menggunakan AI berarti membeli atau memakai teknologi, sedangkan membangun kapasitas AI berarti menciptakan nilai ekonomi dari teknologi tersebut.

Jika Indonesia hanya berada pada posisi pengguna, ketergantungan terhadap penyedia teknologi asing bisa semakin besar. Sebaliknya, penguatan kemampuan domestik dapat membuka ruang bagi perusahaan teknologi lokal, perguruan tinggi, peneliti, dan talenta digital untuk masuk ke rantai ekonomi AI global.

Peluang Ekonomi Terbuka Lebar

AI berpotensi memberikan dampak pada hampir seluruh sektor ekonomi. Di industri, AI dapat membantu otomatisasi dan meningkatkan efisiensi produksi. Di sektor keuangan, teknologi ini dapat digunakan untuk analisis risiko dan layanan pelanggan. Sementara itu, sektor pendidikan dapat memanfaatkan AI sebagai alat pembelajaran. Pelaku UMKM juga berpotensi menggunakannya untuk membuat konten, menganalisis pasar, dan meningkatkan efisiensi operasional.

Namun, peluang tersebut hanya akan maksimal jika akses terhadap teknologi tidak terkonsentrasi pada perusahaan besar atau kelompok masyarakat tertentu. Ada risiko munculnya kesenjangan baru antara pelaku usaha yang memiliki akses terhadap teknologi, modal, data, dan tenaga ahli dengan mereka yang tidak memilikinya. Karena itu, kebijakan AI perlu melihat dua sisi sekaligus: mendorong inovasi dan memastikan manfaat ekonominya tersebar lebih luas.

Risiko: Ketimpangan Teknologi Bisa Menjadi Ketimpangan Ekonomi

Persoalan AI tidak berhenti pada kemampuan teknis. Jika akses terhadap komputasi, data, talenta, dan infrastruktur hanya di miliki negara atau perusahaan tertentu, maka kesenjangan teknologi dapat berubah menjadi kesenjangan ekonomi. Perusahaan dengan teknologi lebih maju berpotensi meningkatkan produktivitas lebih cepat. Sebaliknya, perusahaan yang tertinggal dapat menghadapi biaya produksi lebih tinggi dan kehilangan daya saing.

Di pasar tenaga kerja, perubahan juga berpotensi terjadi, Sebagian pekerjaan dapat menjadi lebih otomatis, sementara kebutuhan terhadap pekerja dengan kemampuan teknologi, analisis data, dan STEM meningkat. investasi pada manusia menjadi sama pentingnya dengan investasi pada mesin.

Pendidikan Menjadi Penentu

Penguatan pendidikan STEM menjadi salah satu fondasi utama. Indonesia tidak cukup hanya menghasilkan pengguna aplikasi AI. Negara membutuhkan peneliti, pengembang perangkat lunak, ahli data, insinyur, serta tenaga profesional yang mampu memahami sekaligus mengembangkan teknologi tersebut.

Baca Juga :  Omzet UMKM Binaan Pertamina Tembus Rp8,57 Miliar, Akses Pasar Jadi Kunci

Dalam jangka panjang, kualitas talenta akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi konsumen teknologi atau mampu menjadi produsen. Penguatan pendidikan juga perlu berjalan bersama riset. Tanpa penelitian dan pengembangan, industri domestik akan kesulitan menghasilkan inovasi yang mampu bersaing secara global.

Energi Bersih dan Infrastruktur Tak Bisa Di pisahkan

Pengembangan AI juga memiliki konsekuensi terhadap kebutuhan infrastruktur dan energi. Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang andal. Karena itu, ekspansi ekonomi digital harus berjalan seiring dengan strategi energi. Dorongan untuk menggunakan energi bersih menjadi penting karena pertumbuhan komputasi AI berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik.

Artinya, agenda AI Indonesia bukan hanya urusan Kementerian Komunikasi dan Digital. Ekosistem tersebut juga berkaitan dengan pendidikan, energi, industri, investasi, riset, dan kebijakan ekonomi. Pendekatan lintas sektor di perlukan agar pertumbuhan teknologi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Tantangan Berikutnya: Tata Kelola

Selain membangun teknologi, pemerintah perlu memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara bertanggung jawab. Aspek yang perlu di perhatikan mencakup keamanan data, perlindungan masyarakat, transparansi penggunaan AI, dampak terhadap pekerjaan, serta pemerataan akses.

Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado menilai pembahasan AI tidak semestinya berhenti pada kemampuan mesin. Menurut dia, masyarakat juga perlu menentukan manusia seperti apa yang ingin di bangun di tengah perkembangan teknologi tersebut. Pandangan tersebut memperluas diskusi AI dari persoalan teknologi menjadi persoalan sosial dan ekonomi.

Pertanyaannya bukan hanya seberapa pintar mesin, tetapi juga siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung risikonya, dan bagaimana nilai ekonomi dari teknologi tersebut didistribusikan.

Indonesia Punya Momentum, tetapi Tidak Bisa Hanya Menjadi Pengguna

Perkembangan AI memberikan Indonesia dua pilihan. Pertama, menjadi pasar besar bagi teknologi yang di kembangkan negara lain. Kedua, membangun kapasitas domestik agar sebagian nilai ekonomi AI dapat di ciptakan dan di nikmati di dalam negeri.

Pilihan kedua membutuhkan investasi jangka panjang. Talenta harus di perkuat. Riset harus mendapatkan ruang. Infrastruktur digital dan komputasi perlu di perluas. Energi harus tersedia secara andal dan semakin efisien. Pada saat yang sama, regulasi perlu memberikan ruang bagi inovasi tanpa mengabaikan perlindungan masyarakat.

Dengan begitu, AI tidak hanya menjadi teknologi yang digunakan masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi instrumen untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat industri, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru, Tantangan terbesarnya bukan apakah Indonesia mampu menggunakan AI. Tantangannya adalah apakah Indonesia mampu menguasai kapasitas di balik AI.

(A/*)

Berita Terkait

Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950?
Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Kopi Tangkuban Parahu Tembus Arab Saudi, 4 Ton Bernilai Rp 800 Juta
Data Desil Bermasalah, DPR Khawatir Warga Miskin Kehilangan Bansos
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 09:00 WIB

Indonesia Hadapi Ledakan AI, Jadi Pengguna atau Mulai Menciptakan?

Sabtu, 5 September 2026 - 12:00 WIB

Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950?

Jumat, 4 September 2026 - 09:00 WIB

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya

Kamis, 3 September 2026 - 12:00 WIB

Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 12:00 WIB

Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter

Berita Terbaru