Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, OJK Ungkap Risiko yang Mengintai

Ekonomi domestik solid meski global melambat dan PMI manufaktur terkontraksi.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 09:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, OJK Ungkap Risiko yang Mengintai
(Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino/AI)

Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, OJK Ungkap Risiko yang Mengintai (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino/AI)

Khabaroo.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global. Dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Agustus 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dan pertumbuhan intermediasi berjalan kuat. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan ekonomi domestik masih tumbuh solid. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut terutama di topang investasi, belanja pemerintah, dan konsumsi rumah tangga.

Ekonomi Domestik Masih Menjadi Penyangga

Angka pertumbuhan 5,29 persen menjadi indikator penting karena terjadi ketika ekonomi global menghadapi perlambatan. Artinya, mesin ekonomi Indonesia masih memiliki daya dorong dari dalam negeri. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu fondasi utama, sementara investasi dan belanja pemerintah memberikan tambahan tenaga terhadap aktivitas ekonomi.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia sepenuhnya terbebas dari tekanan eksternal. Perlambatan ekonomi global dapat memengaruhi perdagangan, harga komoditas, arus modal, nilai tukar, hingga permintaan ekspor Indonesia.

Ekonomi Global Mulai Kehilangan Momentum

OJK melihat pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi. Mayoritas negara mencatat perlambatan pertumbuhan pada kuartal II 2026. Amerika Serikat menghadapi pertumbuhan yang berada di bawah ekspektasi. Pasar tenaga kerja juga mulai mengalami moderasi, sementara inflasi masih relatif tinggi meski menunjukkan tren penurunan.

Sementara itu, China mencatat pertumbuhan PDB sebesar 4,3 persen yoy pada kuartal II 2026. Perlambatan China penting bagi Indonesia karena negara tersebut merupakan salah satu mitra perdagangan utama. Jika produksi dan permintaan domestik China melemah, permintaan terhadap sejumlah komoditas dan produk ekspor Indonesia berpotensi ikut terdampak.

Konflik Timur Tengah Jadi Risiko Ekonomi

Konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah, termasuk situasi Iran dan belum normalnya jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, meningkatkan risiko terhadap distribusi energi global. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat meningkatkan biaya transportasi dan mendorong kenaikan harga minyak.

Efeknya tidak berhenti pada sektor energi, Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai sektor. Jika berlangsung lama, tekanan tersebut berpotensi membuat inflasi global kembali meningkat.

El Nino Tambah Tekanan Inflasi

Tekanan harga juga di perbesar oleh fenomena El Nino yang berkepanjangan. Kekeringan dapat mengganggu produksi pertanian, sementara kebakaran hutan berpotensi menghambat aktivitas ekonomi dan distribusi di sejumlah wilayah. Bagi masyarakat, dampaknya dapat terlihat melalui kenaikan harga sejumlah kebutuhan. Bagi dunia usaha, kondisi tersebut berarti biaya operasional dan bahan baku berpotensi meningkat. Dengan kata lain, risiko inflasi tidak hanya berasal dari kebijakan moneter atau harga energi, tetapi juga dari faktor cuaca dan gangguan pasokan.

Baca Juga :  UMKM Mendominasi QRIS, BI Ungkap Potensi Besar di Balik 96,68% Merchant

Inflasi 3,19 Persen, Manufaktur Masuk Kontraksi

Inflasi yang terlalu tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat karena harga barang dan jasa meningkat lebih cepat di bandingkan pertumbuhan pendapatan.

Di sisi lain, sektor manufaktur memberikan sinyal yang lebih berhati-hati. PMI manufaktur Indonesia berada di level 49,8, atau masuk zona kontraksi karena berada di bawah level 50. Secara sederhana, angka PMI di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami pelemahan di bandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini perlu di cermati karena industri manufaktur memiliki keterkaitan luas dengan tenaga kerja, investasi, konsumsi bahan baku, logistik, hingga ekspor.

Imbal Hasil Obligasi Global Naik

Imbal hasil obligasi pemerintah negara maju melanjutkan kenaikan. Salah satu faktor yang di soroti adalah meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan hyperscaler. Kenaikan imbal hasil obligasi negara maju dapat memengaruhi keputusan investor global. Ketika aset berdenominasi mata uang utama menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sebagian dana global berpotensi berpindah dari negara berkembang menuju aset yang di anggap lebih menarik atau lebih aman. Bagi Indonesia, situasi ini perlu di antisipasi karena dapat memengaruhi pasar obligasi, nilai tukar, serta biaya pendanaan.

OJK Perkuat Fondasi Pasar Keuangan

Salah satu fokusnya adalah memperkuat tata kelola pasar modal melalui pengaturan demutualisasi dalam rancangan Peraturan OJK (POJK) mengenai pemegang saham bursa efek. OJK juga menyempurnakan kerangka penegakan hukum atau enforcement di sektor pasar modal. Langkah ini penting dari perspektif ekonomi karena pasar modal membutuhkan kepercayaan. Semakin kuat tata kelola dan pengawasan, semakin besar peluang pasar modal menjadi sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha.

Konglomerasi Keuangan Jadi Perhatian

OJK juga menyiapkan aturan terkait konglomerasi keuangan yang wajib membentuk Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK). Dua aspek yang di siapkan mencakup kewajiban penyediaan modal minimum terintegrasi dan likuiditas terintegrasi. Tujuannya adalah memperkuat ketahanan kelompok usaha keuangan secara menyeluruh.

Pendekatan tersebut penting karena risiko pada satu entitas dalam konglomerasi dapat berpotensi memengaruhi entitas lain jika tidak di kelola secara terintegrasi. Dengan pengawasan modal dan likuiditas yang lebih kuat, risiko penularan masalah keuangan dapat di tekan.

Baca Juga :  Omzet Melejit, Narita Shibori Justru Perluas Pemberdayaan Disabilitas

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Di siapkan

OJK juga mulai menyiapkan kerangka pengaturan dan pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) sesuai mandat UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). OJK menyusun rancangan aturan mengenai tahapan peralihan tugas dan wewenang pengaturan serta pengawasan transaksi BMKS.

Selain regulasi, OJK menyiapkan struktur organisasi dan sumber daya manusia untuk menjalankan fungsi pengaturan, perizinan, serta pengawasan. Jika ekosistem ini berjalan efektif, peluang ekonominya cukup besar. Perdagangan komoditas strategis yang lebih terstruktur dapat meningkatkan transparansi transaksi, memperkuat tata kelola, dan mendukung pengembangan pasar komoditas domestik. Namun, tantangannya juga tidak kecil. Infrastruktur perdagangan, kualitas pengawasan, kesiapan pelaku usaha, serta mekanisme manajemen risiko harus berjalan seiring.

Dana Pensiun Di bidik untuk Perluasan Inklusi

OJK juga menempatkan sektor dana pensiun sebagai bagian dari agenda penguatan ekonomi jangka panjang. Pada 6 September 2026, OJK bersama pemangku kepentingan mencanangkan Bulan Dana Pensiun 2026. Program tersebut di tujukan untuk meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun sekaligus mendorong masyarakat menyiapkan kebutuhan finansial sejak sebelum memasuki masa purna bakti. Lebih dari 100 kegiatan literasi dan inklusi di perkirakan di gelar di berbagai daerah dengan sasaran pekerja formal maupun informal.

Dari sisi ekonomi, peningkatan kepesertaan dana pensiun berpotensi memperluas basis tabungan jangka panjang masyarakat. Dana jangka panjang juga dapat menjadi sumber pembiayaan investasi. Karena itu, penguatan sistem pensiun tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat setelah pensiun, tetapi juga dengan pengembangan pasar keuangan nasional.

Peluang dan Risiko Ekonomi Indonesia

Data OJK menunjukkan posisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Pertumbuhan 5,29 persen menjadi modal penting ketika ekonomi global melambat. Peluang terbesar berasal dari kekuatan konsumsi domestik, investasi, belanja pemerintah, serta penguatan infrastruktur sektor keuangan.

Namun, risiko eksternal tetap tinggi. Perlambatan China, tekanan harga minyak, konflik geopolitik, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta kontraksi manufaktur perlu menjadi perhatian.

Indonesia juga perlu menjaga agar inflasi tidak menggerus daya beli sekaligus memastikan stabilitas sektor keuangan tetap terjaga. Dengan kondisi tersebut, tantangan ekonomi Indonesia bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tetap berkualitas, di dukung produktivitas, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan sistem keuangan yang semakin kuat.

(A/*)

Berita Terkait

Laba Naik 22,3 Persen, Bank Mandiri Bagikan Dividen Interim Rp6,16 Triliun
Indonesia Hadapi Ledakan AI, Jadi Pengguna atau Mulai Menciptakan?
Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950?
Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya
Bitcoin Menguat Tajam, Transaksi Kripto Agustus Tembus Rp8,7 Triliun
Mulai Hari Ini! Harga Pertamax Green 95 Tembus Rp19.150 per Liter
Nilai LCT Tembus US$32,89 Miliar, BI Kini Resmi Gandeng Singapura
Sektor Kesehatan Mendominasi! 4 dari 7 Perusahaan Antre IPO di BEI
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:00 WIB

Laba Naik 22,3 Persen, Bank Mandiri Bagikan Dividen Interim Rp6,16 Triliun

Selasa, 8 September 2026 - 09:00 WIB

Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, OJK Ungkap Risiko yang Mengintai

Minggu, 6 September 2026 - 09:00 WIB

Indonesia Hadapi Ledakan AI, Jadi Pengguna atau Mulai Menciptakan?

Sabtu, 5 September 2026 - 12:00 WIB

Harga Keekonomian Pertamax Rp16.800, Kok Masih Dijual Rp15.950?

Jumat, 4 September 2026 - 09:00 WIB

Investor Kripto Mulai Serbu Futures, Ini Peluang dan Risiko Besarnya

Berita Terbaru