Khabaroo.com – Skenario latihan Trident Resolve, proses evakuasi korban di Banten justru di buat semakin rumit oleh gangguan komunikasi yang di simulasikan sebagai ancaman siber. TNI menyiapkan latihan tersebut untuk menguji kemampuan menghadapi ancaman keamanan nontradisional sekaligus situasi darurat. Latihan di jadwalkan berlangsung pada 21-25 September 2026 di Banten dengan melibatkan negara-negara ASEAN Plus.
Bencana dan Gangguan Komunikasi Jadi Satu Skenario
Kabid Kerja Sama ASEAN Puskersin TNI Kolonel Arm David Eldo mengatakan, Trident Resolve tidak hanya menguji satu kemampuan. Keamanan maritim, keamanan siber, dan kedokteran militer akan di gabungkan dalam satu rangkaian simulasi. “Materinya adalah keamanan maritim, keamanan siber dan kedokteran militer. Nah ini lumayan menarik skenarionya, itu terjadi bencana,” ujar David saat berbincang bersama Pro3 RRI Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Dalam skenario tersebut, bencana terjadi di wilayah Banten dan memicu kebutuhan evakuasi korban. Masalah kemudian muncul ketika komunikasi terganggu. Kondisi itu sengaja di buat untuk menguji respons peserta ketika operasi kemanusiaan harus berjalan di tengah ancaman lain. Koordinasi menjadi kunci karena proses evakuasi melibatkan berbagai unsur sekaligus.
Kapal Perang dan Kapal Rumah Sakit Di libatkan
Aspek keamanan maritim juga masuk dalam simulasi. Kapal perang dan kapal rumah sakit akan di tempatkan sebagai bagian dari skenario untuk membantu proses evakuasi serta penanganan korban. “Terjadi bencana di daerah Banten, kemudian begitu mau evakuasi terjadi ada gangguan komunikasi. Dari keamanan maritim, nanti ada kapal perang maupun kapal rumah sakit,” kata David.
Keterlibatan unsur maritim membuat latihan tidak berhenti pada penanganan korban di darat. Peserta juga di uji untuk mengoordinasikan dukungan dari unsur laut ketika kondisi darurat berkembang menjadi situasi yang lebih kompleks.
Uji Koordinasi Antarnegara
Trident Resolve merupakan bagian dari kerja sama pertahanan dalam kerangka ASEAN Plus. Forum tersebut melibatkan ASEAN bersama delapan negara mitra, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Jepang. Menurut David, latihan di rancang untuk meningkatkan koordinasi dan interoperabilitas antarangkatan bersenjata. Kemampuan tersebut di butuhkan ketika berbagai unsur harus bekerja secara bersamaan dalam menghadapi bencana maupun ancaman keamanan.
Artinya, tantangan yang di uji bukan sekadar kecepatan merespons. Peserta juga harus mampu menjaga koordinasi ketika sistem komunikasi terganggu dan kebutuhan evakuasi tetap berjalan.
Tiga Kelompok Kerja Di gabung
Latihan ini mengintegrasikan tiga kelompok kerja, yakni HADR (Humanitarian Assistance and Disaster Relief), Military Medicine, dan Cyber Security. Ketiganya di tempatkan dalam satu skenario agar peserta dapat menguji kemampuan menghadapi situasi darurat secara terpadu.
Melalui skenario bencana yang di perumit gangguan komunikasi, TNI dan peserta ASEAN Plus akan menguji bagaimana unsur kemanusiaan, medis, maritim, dan siber dapat bergerak dalam satu koordinasi. Dengan pola tersebut, Trident Resolve di arahkan untuk memperkuat kesiapan menghadapi ancaman nontradisional yang tidak selalu berbentuk konflik bersenjata, tetapi dapat muncul bersamaan dengan bencana dan kondisi darurat lainnya.
(A/*)










